DERMATOMIOSITIS

DERMATOMIOSITIS

  1. Konsep Medis 
    1.  Pengertian

Dermatomiositis adalah miopati inflamasi idiopatik, dengan temuan kutaneous karakteristik, yang terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Ini gangguan sistemik yang paling sering mempengaruhi kulit dan otot, tetapi juga dapat mempengaruhi sendi, kerongkongan, paru-paru, dan, kurang umum, jantung .

Dermatomyositis adalah penyakit inflamasi jarang ditandai dengan kelemahan otot dan ruam kulit yang khas. Secara medis, polymyositis diklasifikasikan sebagai inflamasi kronis miopati salah satu dari tiga penyakit tersebut.

Dermatomiositis adalah salah satu penyakit kulit yang mengenai jaringan kulit, subkutis dan otot-otot dengan disertai tanda-tanda edema, dermatitis, peradangan dan degenerasi otot (Siregar, 2002).

Dermatomiositis merupakan penyakit peradangan yang menyerang sekelompok otot lurik, biasanya secara simetris (Price, S.A dan L.M. Wilson, 1985).

Dermatomiositis merupakan penyakit multi sistem yang ditandai oleh peradangan tidak bernanah dari otot lurik dan lesi kulit khusus (Jane G.S, 1996 hal 842)

  1. Anatomi dan fisiologi

Gambar

  1. Kulit

Kulit adalah  suatu organ  pembungkus seluruh permukaan luar tubuh,merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh.seluruh kulit beratnya sekitar 16% berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7-3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5-1,9 mt2. Tebalnya kulit bervariasi mulai dari 0,5 mm – 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapisan yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam berasal dari mesoderm adalah dermis atau corium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.  

Lapisan- lapisan kulit :

Gambar

1)      Epidermis

Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5% dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Epidermis terdiri atas lima lapisan ( dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam ) :

a)      Stratum Korneum, Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti.

b)      Stratum Lusidum 

Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.

c)      Stratum Granulosum

Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialan yang mengandung protein kaya histidin. Terdapat sel Langerhans.

d)     Stratum Spinosum

Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi.Epidermis pada tempat yang mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum basale dan  stratum spinosum  disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel Langerhans.

e)      Stratum Basale (Stratum Germinativum)

Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. 

Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke 2 permukaan,hal  ini tergantung letak, usia dan faktor lain. Merupakan satu lapis sel yang  mengandung melanosit.

Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitoksin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan Langerhans.

2)       Dermis

Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai “ true skin “. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkan dengan jaringan sub kutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm.

Dermis  terdiri dari dua lapisan :

a)      Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.

b)      Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat.

Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira lima kali dari fetus sampai dewasa. Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannyadan tampak mempunyai banyak keriput. Dermis mempunyai  banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga mengandung beberapa derivate epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.

 Fungsi Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi

3)      Subkutis

Merupakan lapisan di bawah dermis atau hypodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini terdiri jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.

Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas,cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber.

VASKULARISASI KULIT

Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis, tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mrndapat nutrisi dari dermis melalui membrane epidermis.

 FISIOLOGI KULIT

Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan, sebagai barier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi,  eskresi dan metabolisme.

Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi mikroorganisme pathogen.. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada daerah bibir, puting dan ujung jari. 

Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan cairan elektrolit melalui keringat,  insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal. Termoregulasi dikontrol oleh hypothalamus. Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat, insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal.

Temperatur kulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Bila temperatur meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi temperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di kulit. Padatemperatur yang menurun, pembuluh darah kulit akan vasokontriksi yangkemudian akan mempertahankan panas.

  1. Sistem Imun

Sistem Imun (bahasa Inggris: immune system) adalah suatu kompleks yang memberikan respons imun (humoral dan seluler) untuk menghadapi agens asing spesifik seperti bakteri, virus, toksin, atau zat lain yang oleh tubuh dianggap “bukan bagian dirinya” (Ethel Slonane, 2004).

 Sistem imun memiliki beberapa fungsi bagi tubuh, yaitu sebagai :

  1. Penangkal benda asing  yang  masuk ke dalam tubuh
  2. Untuk keseimbangan fungsi tubuh terutama menjaga keseimbangan komponen tubuh yang telah tua
  3. Sebagai deteksi adanya sel-sel abnormal, termutasi, atau ganas, serta menghancurkannya.

Letak-Letak Sistem Imun

Sistem imun terbentuk dari sel-sel darah putih, sumsum  tulang, dan jaringan limfoid yang mencakup kelenjar timus, kelenjar limfe, lien, tonsil serta adenoid. Sel- sel darah putih yang terlibat dalam imunitas yaitu limfosit B dan limfosit T yang berasal dari limfoblast yang dibuat dalam sumsum tulang.

Kelenjar limfe yang tersebar diseluruh tubuh menyingkirkan benda asing dari sistem limfe sebelum benda asing tersebut memasuki aliran darah dan juga berfungsi sebagai pusat proliferasi sel imun.

Lien yang tersusun dari pulpa rubra dan alba bekerja seperti saringan. Pulpa rubra merupakan lokasi tempat sel-sel darah merah yang tua dan mengalami cedera dihancurkan. Pulpa rubra mengandung kumpulan limfosit. Jaringan limfatik lain, seperti tonsil dan adenoid mempertahankan tubuh terhadap serangan mikroorganisme

  1. Etiologi

Penyebab pasti dermatomiositis tidak diketahui, tetapi penyakit saham banyak karakteristik dengan gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang komponen tubuh normal.

Biasanya, sistem kekebalan tubuh Anda bekerja untuk melindungi sel-sel sehat Anda dari serangan zat asing, seperti bakteri dan virus. Jika Anda memiliki polymyositis, penyebab yang tidak diketahui dapat bertindak sebagai pemicu untuk sistem kekebalan tubuh untuk mulai memproduksi antibodi autoimun (autoantibodi) yang menyerang jaringan tubuh sendiri. Banyak orang dengan polymyositis menunjukkan tingkat terdeteksi autoantibodi dalam darah mereka.

Pembuluh darah kecil dalam jaringan otot terutama terpengaruh pada dermatomiositis. Sel-sel inflamasi mengelilingi pembuluh darah dan akhirnya menyebabkan degenerasi serat otot.

  1. Klasifikasi

Klasifikasi penyakit ini secara umum didasarkan pada kombinasi antara kriteria klinik dan patologik serta umur pasien yaitu sebagai berikut :

  1. Polimiositis dewasa {tanpa keterlibatan kulit}.
  2. Dermatomiositis dewasa {keterlibatan otot dan kulit}.
  3. Polimiositis / Dermatomiositis dengan penyakit keganasan.
  4. Dermatomiositis / Polimiositis pada anak-anak.
  5.  Polimiositis / Deramtomiositis bersama kelainan-kelainan jaringan ikat lain.
  1. Patofisiologi

Dermatomiositis dianggap sebagai hasil dari serangan humoral terhadap otot kapiler dan arteriol kecil (endotelium pembuluh darah endomysial). Sejak 1966, telah ada bukti yang mendukung suatu microangiopathy sedang berlangsung.

Penyakit ini dimulai ketika antibodi putatif atau faktor lain mengaktifkan C3, membentuk fragmen C3b dan C4b yang mengarah pada pembentukan serangan C3bNEO dan membran kompleks (MAC), yang disimpan dalam pembuluh darah endomysial. Melengkapi C5b-9 MAC disimpan dan dibutuhkan dalam mempersiapkan sel untuk kehancuran dalam antibodi-dimediasi penyakit. sel B dan CD4 (helper) sel juga hadir dalam kelimpahan dalam reaksi inflamasi yang berhubungan dengan pembuluh darah.
Sebagai penyakit berlangsung, kapiler yang hancur, dan otot mengalami microinfarction. Atrofi Perifascicular terjadi di awal, namun, karena kemajuan penyakit, serat nekrotik dan degeneratif hadir seluruh otot.

  1. Tanda dan gejala
    1. Perubahan kulit.

Sebuah  ruam  merah berwarna ungu kehitaman atau berkembang, paling sering pada wajah , kelopak mata dan daerah di sekitar kuku, buku-buku jari, siku, lutut, dada dan punggung. Ruam yang dapat tambal sulam dengan perubahan warna kebiruan-ungu, sering menjadi tanda pertama dermatomiositis.

GambarGambar

  1. Kelemahan otot.

Kelemahan otot yang  progresif melibatkan otot-otot yang paling dekat dengan batang, seperti di pinggul, paha, bahu, lengan atas dan leher. Kelemahan simetris, mempengaruhi baik sisi kiri dan kanan tubuh Anda, dan cenderung bertahap memburuk.

Tanda-tanda dan gejala dermatomiositis lain yang mungkin terjadi antara lain:

  1. Kesulitan menelan (disfagia)
  2. Nyeri otot atau nyeri
  3. Kelelahan, demam dan penurunan berat badan
  4. Deposito Hardened kalsium di bawah kulit (calcinosis), terutama pada anak-anak Ulkus gastrointestinal dan perforasi usus, juga lebih sering terjadi pada anak-anak masalah paru-paru 
  1. Pemeriksaan diagnostic
    1.  Laboratorium
       Misalnya, creatine kinase, Aldolase, aspartat aminotransferase, dehidrogenase laktat
    2. Biopsi kulit ruam : penampilan mikroskopi mirip dengan lupus eritematosus.
    3. Biopsi otot, baik terbuka atau melalui jarum. Hasil biopsi mungkin berguna dalam membedakan miopati steroid dari miopati inflamasi aktif  ketika pasien telah di terapi kortikosteroid namun masih lemah.
    4. MRI mungkin berguna dalam menilai keberadaan suatu inflamasi miopati pada pasien tanpa kelemahan. Hal ini dapat membantu dalam membedakan miopati steroid dari peradangan lanjutan dan dapat berfungsi sebagai panduan dalam memilih situs biopsi otot.
    5. Radiografi dada harus diperoleh pada saat diagnosis dan ketika gejala berkembang.
    6. Barium inloop memungkinkan evaluasi dysmotility kerongkongan.
    7. Ultrasonografi otot-otot telah disarankan untuk evaluasi tetapi belum diterima secara luas.
    8. EMG adalah sarana untuk mendeteksi peradangan otot dan kerusakan berguna dalam memilih situs biopsi otot. Sejak diperkenalkannya MRI, EMG menjadi kurang umum digunakan.
    9. CT scan berguna dalam evaluasi potensi keganasan yang mungkin terkait dengan miopati inflamasi.
  1. Penatalaksanaan

Terapi untuk dermatomiositis melibatkan kedua tindakan umum dan langkah-langkah khusus untuk mengendalikan penyakit otot dan penyakit kulit. Selain itu, beberapa pasien dengan dermatomiositis membutuhkan pengobatan untuk manifestasi sistemik lain atau komplikasi.

  1. Farmakologi

Komponen otot diperlakukan dengan pemberian kortikosteroid, dengan atau tanpa agen imunosupresif. Penyakit kulit diobati dengan menghindari paparan sinar matahari dan dengan menggunakan tabir surya, kortikosteroid topikal, agen antimalaria, atau agen seperti methotrexate atau mycophenolate mofetil.

Anak-anak dan remaja jauh lebih rentan terhadap perkembangan calcinosis. Pengobatan agresif dan dini dapat mencegah komplikasi ini.

  1. Medis

Perawatan bedah biasanya tidak diperlukan dalam pengelolaan dermatomyositis. Namun, beberapa pasien dapat meminta operasi pengangkatan local area calcinosis.

  1. Tindakan umum

Beberapa langkah-langkah umum yang membantu dalam perawatan pasien dengan dermatomiositis. Istirahat di tempat tidur sering berharga bagi mereka dengan peradangan parah dari otot.

Pada pasien dengan kelemahan otot, terutama anak-anak, program terapi fisik berguna untuk membantu mencegah kontraktur yang dapat mempersulit penyakit ketika pasien tidak sepenuhnya memindahkan sendi mereka.

Untuk pasien dengan disfagia, mengangkat kepala tempat tidur mereka dan meminta mereka menghindari makan sebelum tidur membantu. Manuver-manuver sederhana dapat mencegah aspirasi pneumonitis. Kadang-kadang, makan tabung nasogastrik diperlukan untuk meningkatkan masukan kalori.

  1. Komplikasi
    Kemungkinan komplikasi dari dermatomiositis meliputi:
    1. Komplikasi kelemahan otot

Kelemahan otot Dermatomyositis dapat menyebabkan:

1)      Kesulitan menelan.

Jika otot-otot di kerongkongan dipengaruhi, mungkin memiliki masalah menelan (disfagia), yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan berat badan dan kekurangan gizi.

2)      Pneumonia aspirasi.

Kesulitan menelan juga dapat menyebabkan (aspirasi) makanan atau cairan, termasuk air liur, ke paru-paru Anda, yang dapat menyebabkan pneumonia.

3)      Masalah pernapasan.

Jika otot-otot dada terkena penyakit, mungkin mengalami masalah pernapasan, seperti sesak napas.

4)      Masalah pencernaan. Ulkus dapat membentuk dan perdarahan dapat terjadi.

  1. Komplikasi gejala Kulit

Masalah yang berhubungan dengan dermatomiositis yang dapat mempengaruhi kulit Anda meliputi:

1)      Kalsium deposito. Deposit kalsium dapat terjadi di otot, kulit dan jaringan ikat (calcinosis) sebagai penyakit berkembang. Deposito tersebut berkembang lebih awal dan lebih sering terjadi pada anak-anak dengan dermatomiositis.
 Infeksi. Dermatomyositis menempatkan Anda pada peningkatan risiko infeksi, terutama pada pernapasan dan pencernaan.

2)      Kondisi yang terkait

Dermatomyositis dapat menyebabkan kondisi lain, atau menempatkan Anda pada risiko yang lebih tinggi mengembangkan mereka. Kondisi ini termasuk:

Fenomena Raynaud. Ini adalah suatu kondisi di mana jari-jari Anda, jari kaki, pipi, hidung dan telinga pucat bila terkena suhu dingin.

Penyakit jaringan ikat lainnya. Kondisi lain, seperti lupus, rheumatoid arthritis, skleroderma dan sindrom Sjogren, dapat terjadi dalam kombinasi dengan dermatomiositis.

  1. Penyakit kardiovaskular. Dermatomyositis dapat menyebabkan otot jantung Anda menjadi meradang (miokarditis). Dalam sejumlah kecil orang yang memiliki dermatomiositis, gagal jantung kongestif dan aritmia jantung bisa terjadi.
  2. Penyakit paru-paru. Sebuah kondisi yang disebut penyakit paru interstisial dapat terjadi dengan dermatomiositis. Penyakit paru interstisial mengacu pada sekelompok gangguan yang menyebabkan jaringan parut (fibrosis) dari jaringan paru-paru, paru-paru membuat kaku dan elastis. Tanda dan gejala termasuk batuk kering dan sesak napas.
  3. Kanker. Dermatomyositis pada orang dewasa telah dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan mengembangkan kanker, terutama dari leher rahim, paru-paru, pankreas, payudara, indung telur dan saluran pencernaan. Risiko kanker meningkat dengan usia, meskipun tampaknya tingkat off tiga tahun atau lebih setelah diagnosis dermatomiositis. Diagnosis kanker juga dapat terjadi sebelum Anda mengembangkan dermatomiositis.
  4. Kekhawatiran selama kehamilan

Kehamilan dapat memperburuk tanda dan gejala pada wanita dengan penyakit aktif. Dermatomiositis aktif juga dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur atau bayi lahir mati. Jika penyakit ini dalam remisi, risikonya tidak besar.

  1. Prognosis

Kebanyakan pasien dengan dermatomyositis bertahan hidup, dalam hal ini mereka dapat mengembangkan kelemahan sisa dan cacat. Anak-anak dengan dermatomyositis parah dapat mengembangkan kontraktur. Penyakit ini secara spontan bisa dikirim pada sebanyak 20% dari pasien yang terkena. Sekitar 5% dari pasien memiliki program progresif fulminan dengan kematian akhirnya. Oleh karena itu, banyak pasien membutuhkan terapi jangka panjang. Pasien dengan dermatomyositis yang memiliki keganasan, keterlibatan jantung, atau keterlibatan paru atau yang sudah berusia lanjut (yaitu > 60 tahun) memiliki prognosis yang lebih buruk.

Dermatomyositis dapat menyebabkan kematian karena kelemahan otot atau keterlibatan cardiopulmonary. Pasien dengan keganasan terkait mungkin mati dari keganasan.

Calcinosis dapat mempersulit dermatomyositis. Hal ini sangat jarang terjadi pada orang dewasa, tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak dan telah dikaitkan dengan keterlambatan diagnosis dan kurang agresif terapi. Kontraktur dapat terjadi jika pasien bergerak.

  1. Epidemiologi

Dermatomyositis dapat dimulai atau diperburuk oleh implan payudara silikon atau injeksi kolagen, namun bukti untuk ini adalah anekdot dan belum diverifikasi dalam studi kasus-kontrol. Satu laporan perbedaan HLA rinci kalangan perempuan di antaranya miopati inflamasi berkembang setelah mereka menerima implan silikon

Kejadian diperkirakan dermatomiositis adalah 9,63 kasus per juta penduduk. Kejadian diperkirakan AMD adalah 2,08 kasus per juta

Dermatomyositis dapat terjadi pada orang dari segala usia. Dua usia puncak onset ada: pada orang dewasa, usia puncak onset adalah sekitar 50 tahun, sedangkan pada anak-anak, usia puncak adalah sekitar 5-10 tahun. Dermatomiositis dan polymyositis adalah dua kali lebih umum pada wanita pada pria. Kondisi tidak menunjukkan setiap predileksi ras.

  1. Pencegahan
    1. Memastikan hidrasi cukup dengan minum banyak air putih dan cairanelektrolit. 
    2.  Menyusun rencana gizi seimbang (4 Sehat  5 Sempurna).
    3. Mendapatkan istirahat yang cukup.
    4. Medical chek up dengan dokter secara rutin.
    5. Mempertahankan berat badan ideal.
  1. Konsep keperawatan
  2. Pengkajian

Riwayat Kesehatan :

  1. Infeksi dan imunisasi
  • Tanyakan ststus imunisasi pasien
  • Kontak yang dialami terhadap infeksi
  • Riwayat alergi dimasa lalu
  • Tanggal dan tipe terapi yang pernah dialami
  1. Alergi
  • Riwayat alergi termasuk tipe allergen
  • Riwayat pemeriksaan atau pengobatan
  1. Kelainan autoimun
  • Kepada pasien di tanyakan kelainan autoinun misalnya Lupus eritematosus.
  1. Neoplasma
  • Riwayat kanker dalam keluarga,tipe kanker (maternal/paternal dengan kelurga yang menderita kanker)
  • Riwayat penggunan Obat (antibiotic,kortikosteroid,salisilat)
  1. Diagnose keperawatan
    1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)    .
    2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Defisit imunologi.
    3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis, psikologis atau ekonomi.
  1. Rencana dan  implementasi
    1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)   
      NOC : Pain Level, Pain control, Comfort level

Kriteria Hasil :

1)      Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan).

2)      Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.

3)      Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri).

4)      Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

5)      Tanda vital dalam rentang normal

NIC : Pain Management

1)       Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.

2)      Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.

3)      Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

4)      Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.

5)      Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan.

6)      Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan.

7)      Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.

8)      Tingkatkan istirahat.

9)      Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

  1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Defisit imunologi

NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes

Kriteria Hasil :

1)      Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi).

2)      Tidak ada luka/lesi pada kulit.

3)      Perfusi jaringan baik.

4)      Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang.

5)      Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

NIC : Pressure Management

1)      Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar.

2)      Hindari kerutan pada tempat tidur.

3)      Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.

4)      Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali.

5)      Monitor kulit akan adanya kemerahan.

6)      Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan.

7)      Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien.

8)      Monitor status nutrisi pasien.

  1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis, psikologis atau ekonomi.
    NOC :  Nutritional Status : food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :

1)      Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan.

2)      Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

3)      Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi.

4)      Tidak ada tanda tanda malnutrisi.

5)      Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.

NIC : Nutrition Management

1)      Kaji adanya alergi makanan.

2)      Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

3)      Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C

4)      Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

5)      Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

NIC : Nutrition Monitoring

1)      Monitor adanya penurunan berat badan

2)      Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan

3)      Monitor lingkungan selama makan

4)      Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

5)      Monitor turgor kulit

6)      Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

  1. Evaluasi
    1. Mampu mengontrol nyeri dan keluhan nyeri berkurang.
    2. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi).
    3. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
  1. Pendidikan kesehatan

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

 

Tema                                      : Sistem Imun dan Hematologi

Sub Tema                               : Penyakit Dermatomiositis

Sasaran                                  : Tn. D

Tempat                                   : Rumah Sakit  Bethesda

Hari/Tanggal                         : Kamis, 28 Februari 2013

Waktu                                                : 30 Menit

  1. A.  Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit orangtua Tn. D diharapkan dapat menjelaskan penyakit Dermatomiositis

 

  1. B.  Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Klien dapat:

  1. Menjelaskan pengertian penyakit Dermatomiositis dengan benar
  2. Menyebutkan faktor penyebab yang dapat menimbulkan penyakit Dermatomiositis
  3. Menyebutkan tanda/gejala dari penyakit Dermatomiositis
  4. Menjelaskan penatalaksanaan penyakit Dermatomiositis
  5. Menjelaskan patofisiologi penyakit Dermatomiositis
  1. C.  Materi
    1. Pengertian penyakit Dermatomiositis
    2. Faktor penyebab dari penyakit Dermatomiositis
    3. Tanda/gejala penyakit Dermatomiositis
    4. Penatalaksanaan penyakit Dermatomiositis
    5. Patofisiologi penyakit Dermatomiositis
  1. D.  Metode
    1. Ceramah
    2. Tanya jawab
  1. E.  Kegiatan Penyuluhan

No

Kegiatan

Penyuluh

Peserta

Waktu

1.

Pembukaan

  • Salam pembuka
  • Menyampaikan tujuan penyuluhan
  • Menjawab salam
  • Menyimak, Mendengarkan, menjawab pertanyaan
 

5 Menit

2.

Kerja/ isi

  • Penjelasan pengertian, penyebab, gejala, penatalaksanaan dan patofisiologi penyakit Dermatomiositis
  • Memberi kesempatan peserta untuk bertanya
  • Menjawab pertanyaan
  • Evaluasi
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian
  • Menanyakan hal-hal yang belum jelas
  • Memperhatikan jawaban dari penceramah
  • Menjawab pertanyaan

 15 menit

3.

Penutup

  • Menyimpulkan
  • Salam penutup
  • Mendengarkan
  • Menjawab salam
 

10 Menit

  1. F.   Media

  Leaflet: Tentang penyakit Dermatomiositis

  1. G.  Evaluasi

Formatif:

  1. Klien dapat menjelaskan pengertian penyakit Dermatomiositis
  2.  Klien mampu menjelaskan faktor penyebab dari penyakit Dermatomiositis
  3. Klien dapat menjelaskan tanda/gejala penyakit Dermatomiositis
  4. Klien  mampu menjelaskan penatalaksanaan penyakit Dermatomiositis

Sumatif:

Klien dapat memahami penyakit penyakit Dermatomiositis

Yogyakarta, 11 April 2013

Pembimbing                                                                                 Penyuluh

(——————————-)                                                      (———————————)

  1. Aspek legal etik

Advokat

Membela hak klien dengan: Memberikan perawatan sebaik mungkin kepada pasien. Jika dalam melakukan suatu tindakan, pasien tidak didampingi oleh keluarga nya atau kerabat dekat nya maka sebagai perawat kita dapat meminta persetujuan dari pasien itu sendiri bila masih dalam keadaan sadar, sehingga bukti hukum menjadi kuat dan semua tindakan dilakukan secara legal.

Kode Etik

  1. Kita harus memberikan informasi yang sebenarnya mengenai keadaan atau kondisi pasien..
  2. Memberikan tindakan keperawatan sesuai prosedur perawatan dan penuh tanggungjawab.
  3. Memberikan tindakan tanpa membedakan antara pasien yang satu dengan yang lain nya.
  4. Menjaga privasi pasien mengenai penyakitnya.
  1. Journal

Keganasan di dermatomiositis dewasa

Abstrak: Dermatomiositis latar belakang telah dilaporkan dikaitkan dengan keganasan pada 15% -34% pasien di negara-negara Barat, tetapi dalam sebanyak dua pertiga pasien di Singapura.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah ukuran diagnostik dapat membantu dalam diagnosis keganasan  pada  pasien dengan dermatomiositis. Metode ini merupakan studi retrospektif atas 38 pasien dewasa dengan dermatomiositis yang terlihat selama periode 6-tahun 1989-1994.

Hasil Semua pasien disajikan dengan fitur kulit yang menunjukkan diagnosis klinis dermatomiositis, namun tidak semua kasus menampilkan semua fitur kunci dari penyakit. Dari pasien yang diteliti, 86,8% yang tercatat memiliki fotosensitifitas sebagai presentasi kulit kunci. Tiga puluh (78,9%) dari pasien kami berada di atas usia 40 tahun, dan 12 (31,6%) dari merekaditemukan memiliki keganasan yang terkait. Karsinoma nasofaring adalah kanker yang  paling sering dikaitkan (38,4%) pada populasi penelitian kami.

Kesimpulan: Dalam populasi penelitian kami, skrining otorhino laryngologic adalah investigasi  penting untuk evaluasi dermatomiositis dalam  hubungan dengan keganasan.

                                               DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 3. Jakarta : EGC

Slonane, Ethel. 2004. Anatomi Dan Fisiologi. Jakarta : EGC

Handayani, Wiwik. 2008.  Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

MELANOMA MALIGNA

LAPORAN KASUS KELOMPOK

SISTEM INTEGUMEN

MELANOMA MALIGNA

DISUSUN OLEH :

  1. Fredrika Cory S           (1203015)
  2. Ni Gusti Ayu Kadek    (1203026)
  3. Paula Dianti M             (1203028)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA

TAHUN AKADEMIK

2013

Melanoma Maligna

  1. Konsep Medis
  2. Pengertian

Kanker kulit adalah penyakit dimana kulit kehilangan kemampuannya untuk generasi dan tumbuh secara normal. Sel-sel kulit yang sehat secara normal dapat membela diri secara teratur untuk menggantikan sel-sel kulit mati dan menumbuhkan.

Melanoma maligna merupakan sejenis neoplasia yang malignan berasal daripada sel yang boleh membentuk melanin di mana-mana bagian kulit ataupun mata. Juga berasal dari membran mucus di kawasan kemaluan, lubur, rongga mulut. Penyakit ini biasanya berlaku pada dewasa secara de novo ataupun nevus berpigmen, lentigo maligna.

Definisi lain dari melanoma maligna yaitu tumor ganas kulit yang berasal dari system melanositik kulit (melanosit) dengan gambaran berupa lesi kehitam-hitaman pada kulit. Biasanya menyebabkan metastasis yang luas dalam waktu singkat, tidak saja melalui aliran limfe ke kelenjar regional, tetapi juga menyebar melalui aliran darah ke alat-alat dalam, serta dapat menyebabkan kematian. Ini adalah jenis penyakit kanker kulit yang paling ganas dan berpotensi mematikan.

  1. Anatomi Fisiologi
  1. Lapisan kulit

1)      Epidermis

a)      Stratum korneum

  • Berlapis lapis sel tanduk (keratin)
  • Sel gepeng kering tak berinti
  • Makin keluar makin tipis dan terlepas untuk digantikan lapisan dibawahnya
  • Hampir tidak mengandung air dan sangat efektif untuk pencegahan penguapan air
  • Protoplasmanya berubah menjadi keratin.

b)      Stratum lusidum

  • Langsung dibawah stratum korneum
  • Protoplasma berubah menjadi protein yang disebut eleidin.
  • Lapisan terdiri dari sel yang gepeng dan bening
  • Sel tak keliahatan karena bening sehingga membentuk satu kesatuan lapisan yang bening
  • Lihat pada telapak tangan dan kaki

c)      Stratum granulosum (keratohialin)

  • Terdiri 2 – 3 lapisan sel yang agak gepeng dengan inti ditengah
  • citoplasmanya berisi butiran (granula) KERATOHIALIN.
  • Lapisan ini berfungsi untuk menghalangi benda asing, kuman, dan bahan kimia masuk ke dalam tubuh.
  • Diniding mucosa tidak mempunyai lapisan ini

d)     Stratum spinosum

  • Terdiri dari banyak lapisam sel yang berbentuk kubus dan poligonal yg besarnya berbeda-beda karena proses mitosis, inti ditengah.
  • Diantara sel terdpt intreceluler bridges, brlekatan membentuk nodulus Bizzozero
  • Sitoplasmanya berisi berkas serat yang terpaut pada dermosom (jembatan sel)
  • Masing sel terikat kuat melalui serat-serat
  • Bentuknya tebal dan kuat terdapat pada bagian tubuh yang sering bersentuhan atau menahan tekanan seperti tumit, telapak kaki.
  • Berfungsi untuk menahan gesekan dan tekanan

e)      Stratum basale

  • Terdiri dr sel berbentuk kubus (kolumner)
  • Tersusun vertikal pd berbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar.
  • Merupakan lapisan epidermis yg paling bawah yang reproduktif
  • Terdiri 2 lapis :

–        Sel dg protoplasma basofilik inti lonjong, dan besar.

–        Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clearcell, berwarna muda, dg cytoplasma basofilik, berinti gelap dan mengandung PIGMEN (melanosomes).

2)      Dermis

Lapisan dermis ini menyatu dengan lapisan subkutis (hipodermis) dengan ketebalan  0,5 – 3 mm. Lapisan dermis memiliki sifat ulet, elastis, berguna untuk melindungi bagian yang lebih dalam . Terdiri dari serat-serat kalogen, serabut-serabut elastis , bersama pembuluh darah dan pembuluh getah bening anyaman yang memberi perdarahan untuk kulit . Lapisan dermis terdiri dari :

a)      Dermis pars papilaris

  • Pars papilaris mengandung lekuk-lekuk dan membentuk lapisan spongiosum (bunga karang)
  • Berperan dalam peremajaan dan penggandaan unsur kulit.
  • Menonjol kearah epidermis.
  • Berisi serabut syaraf dan pembuluh darah.

b)      Dermis pars retikularis

  • Pars retikularis mengandung jaringan ikat rapat.
  • Unsur sel dalam dermis adalah fibroblas, makrofag dan sel lemak berkelompok dan jaringan berpigmen
  • Terdapat juga sel otot musculus erektor fili.
  • Menonjol kearah subcutan, terdiri serabut2 penunjang : kalogen,elastin dan retikulin.

3)      Subkutis

a)      Merupakan jaringan ikat longgar dengan komponen serat longgar, elastik dan jaringan lemak .

b)      Terdiri dari sel2 lemak yang besar dan bulat dengan inti dipinggir.

c)       Mendukung mobilitas kulit diatasnya dengan adanya bantal lemak penikulus adiposa.

d)     Berfungsi sebagai cadangan makanan.

e)      Terdapat arteri, vena, dan anyaman syaraf, dan kelenjar getah bening

  1. Adneks kulit

1)      Kelenjar

Glandula sudorifera (kelenjar keringat)

a)      Kelenjar ekrin

  • Terbentuksempurna pd 28 mgg kehamilan ttp baru berfungsi 40 mgg setelah lahir.
  • Berbentuk spiral dan bermuara langsung dipermukaan kulit.
  • Terdapat diseluruh permukaan kulit, terbanyak di telapak tangan & kaki, dahi dan aksila.
  • Sekresi dipengaruhi oleh saraf kolinergik, suhu dan stress emosional.

b)      Kelenjar apokrin

  • Terdpt di aksila, pubis, areola mame, labia minora, dan saluran telinga luar.
  • Berfungsi mulai pada masa pubertas.
  • Terletak lebih dalam dan lebih besar dari kelenjar ekrin dan sekretnya lebih kental.
  • Mengandung air, eletrolit, asam laktatdan glukosa. PH sekitar 4 -6.8

Kelenjar sebasea (kelenjar palit)

  • Terdpt diseluruh permukaan kulit manusia kecuali telapak tangan dan kaki.
  • Termasuk kelenjar holokrin karena tidak berlumen.
  • Sekret merupakan dekomposisi dari sel2 kelenjar.
  • Terletak disamping akar rambut (folikel rambut)
  • Bermuara di folikel akar rambut.

2)      Kuku

Kuku merupakan terminal lapisan tanduk yg menebal. Kuku tumbuh 1mm perminggu. Bagian-bagian kuku terdiri dari :

a)      Nail root :akar kuku, bagian kuku yang tertanam di dlm kulit jari.

b)      Nail plate :bagian kuku yang menempel diatas kulit.

c)      Nail groove :lengkung alur kuku.

d)     Eponikium :kulit tipis yang menutup kuku bagian progsimal.

e)      Hiponikium: bg kulit yg tertutup oleh kuku.

3)      Rambut

a)      Lanugo adalah rambut halus tak berpigmen terdppt pada bayi.

b)      Rambut terminal  pada orang dewasa banyak mengandung pigmen, kasar. Terdapat di kepala, bulu mata, alis, kumis, pubis, janggut dan pertumbuhanya dipengaruhi oleh hormon androgen ( hormon seks).

c)      Velus : rambut halus di dahi dan badan lain.

Siklus pertumbuhan rambut

a)      Fase anagen (fase pertumbuhan) :berlangsung 2-6 tahun. Tumbuh kira2 0,35 mm perhari.

b)      Fase katagen ( fase involusi temporer).

c)      Fase telogen  fase istirahat ) beberapa bulan

FISIOLOGI KULIT

  1. Fungsi proteksi
  • Proteksi fisis dan mekanis : tekanan, gesekan, tarikan.àketebalan lapisan kulit dan lemak subcutis.
  • Proteksi kimiawi : zat iritan àstratum korneum impermeabel, dan lepas secara teratur.
  • Proteksi terhadap panas: ultra violet àmelanosit.
  • Proteksi terhadap infeksi à keratin impermeabel, lepas secara teratur, pH 5-6,5.
  1. Fungsi ekskresi
  • Kelenjar-kelenjar kulit  mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme berupa : NaCl, Urea, asam urat, amonia.
  • Kulit mengeluarkan (kelenjar sebasea) mengeluarkan sebum yang berfungsi untuk melicinkan kulit, menahan evaporasi, dan menciptakan keasaman kulit.
  1. Fungsi pengatur suhu (termoregulasi)
  • Mengeluarkan keringat, evaporasi, radiasi.
  • Vasokonstriksi vasodilatasi perifer oleh sistem syaraf simpatis,
  • Fungsi pembentuk pigmen
  • Pada stratum basale ; jumlah dan besarnya melanosomes menentukan warna kulit.
  • Warna kulit juga ditentukan oleh kadar Hb, Oksi Hb, dan karoten.
  • Warna kulit juga dipengaruhi tebalnya kulit.
  1. Fungsi keratinasi
  • Epidermis  terdiri dari keratinosit, sel langerhans dan melanosit. Keratinosit terus bergerak keatas dan berubah bentuknya menjadi spinosum àgranulosum à keratin ; proses ini berjalan terus seumur hidup.
  1. Fungsi pembnetukan vitamin D
  • Mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.
  1. Fungsi persepsi sensori/ perabaan

Kulit mempunyai ujung-ujung serabut saraf pada dermis dan subkutis:

  • panasà BADAN RUFFINI dermis dan subkutis.
  • Dingin à BADAN KRAUSE dermis.
  • Taktil /rabaan àBADAN MEISNER papila dermis dan BADAN MARKEL RANVIER epidermis.
  • Tekanan à BADAN VATER PACCINI epidermis.

Saraf tersebut diatas lebih banyak pada daerah erotis.

  1. Fungsi absorbs
  • Kulit yang sehat tidak menyerap air, larutan atau benda padat, tapi hanya cairan yang mudah diserap, mudah menguap dan yang larut dalam lemak.
  • Permeabilitas kulit terhadap O2 dan CO2 serta uap air memungkinkan kulit berperan proses respirasi jaringan.
  • Absorbsi diserap lebih banyak dari sel-sel epidermis daripada saluran kelenjar.
  1. Etiologi

Penyebabnya belum di ketahui secara pasti namun peran sinar ultraviolet matahari sangat berperan dan diduga menjadi penyebab utama. Melanoma di temukan hampir pada semua usia dan sering di temukan pada daerah tropik.

Faktor resiko melanoma maligna diantaranya yaitu:

  1. Tahi lalat (Nevus)
  2. Faktor Keluarga
  3. Fenotip
  4. Supresi Sistem Imun
  5. Pajanan Terhadap Radiasi Sinar UV yang Berlebihan
  6. Usia
  7. Xeroderma Pigmentosum
  8. Riwayat Terkena Melanoma
  9. Corak kulit kuning langsat, mata biru, rambut pirang / merah
  10. Bekerja diluar ruangan
  11. Lansia dengan kulit rusak karena matahari
  12. Riwayat tindakan sinar-x terjadi kordis kulit
  13. Pemajanan pada agens kimia tertentu (arsenik, nitrat, tar dan ter, minyak dan parafin)
  14. Jaringan parut luka bakar, kerusakan kulit pada area osteomielitis kronis, lubang fistula
  15. Terapi imunosupresi jangka panjang
  16.  Kerentanan genetik
  17.  Infeksi terhadap patogen.

Melanoma maligna kutan primer dapat diklasifikasikan dalam 4 tipe mayor, yaitu

  1. Melanoma Maligna Lentigo (LMM)

LMM disebut juga Hutchinson’s melanotic freckle atau prakanker Dubreilh. LMM timbul dari lesi lentigo maligna yang telah ada sebelumnya. LMM menduduki kira-kira 5% dari melanoma kulit primer, terutama terjadi pada orang tua. Berlawanan dengan substipe melanoma lainnya, LMM mengenai daerah tubuh yang terpapar sinar matahari, terutama wajah. Lesi pada lentigo maligna biasanya berupa bercak makula kecil, berwarna coklat gelap, coklat, atau hitam. Pada permukaannya dapat dijumpai adanya bercak-bercak pigmentasi, yang tersebar tidak teratur. Lesi meluas secara perlahan dan ireguler. Dapat berkembang menjadi nodul biru kehitaman yang invasif dan agak hiperkeratotik.

  1. Melanoma Maligna Permukaan (SSM)

Pada umumnya timbul dari nevus atau pada kulit normal (de novo). Merupakan jenis yang sering dijumpai, yaitu sekitar 70% dari seluuh melanoma maligna. Lebih sering dijumpai pada usia yang lebih muda dibandingkan dengan LMM, yaitu berkisar antara 40-50 tahun. Lesi berupa plak archiformis berukuran 0,5-3 cm dengan tepi meninggi dan ireguler. Pada permukaannya terdapat campuran dari bermacam-macam warna seperti coklat, abu-abu, biru, hitam, dan sering kemerahan. Meluas secara radial. Pada umumnya setelah lesi mencapai ukuran 1-2,5 cm, terjadi fase pertumbuhan secara vertikal dan berkembang menjadi nodul biru kehitaman. Predileksinya pada wanita dijumpai pada tungkai bawah dan punggung, sedangkan pada pria dibadan dan leher.

  1. Melanoma Maligna Bernodul (NM)

Dapat terjadi tanpa didahului fase pertumbuhan radial. Sehingga aturan ABCD tidak dapat diterapkan pada subtipe ini. Kira-kira 10-30% kasus melanoma adalah tipe noduler. Tempat yang sering terkena adalah kepala, leher dan badan. Lesi biasanya berupa nodul yang meninggi, berpigmen seragam. Warnanya berkisar dari biru kehitaman sampai coklat gelap, atau kadang-kadangamelanotik.

  1. Melanoma Maligna Lentigo Akral (ALM)

Pada umumnya timbul pada kulit normal (de novo). Merupakan tipe yang paling jarang terjadi (1%), tapi dapat sangat ganas karena keterlambatan diagnosis. Predileksinya pada telapak kaki dan tangan, jari-jari tangan dan kaki, dasar kuku, dan membrana mukosa. Lesi berupa bercak dengan pigmen yang tersebar dengan intensitas yang bervariasi. Pada permukaannya dapat timbul papul, nodul, dan dapat mengalami ulserasi

  1. Patofisiologi

Melanoma bisa berawal sebagai pertumbuhan kulit baru yang kecil dan berpigmen padakulit yang normal. Paling sering tumbuh pada kulit yang terpapar sinar matahari, tetapihamperseparuh kasus tumbuh dari tahi lalat yang berpigmen. Melanoma mudah menyebar kebagiantubuh yang jauh (metastase), dimana akan terus tumbuh dan menghancurkan jaringan.Semakinsedikit pertumbuhan melanoma ke dalam kulit, maka semakin besar peluanguntukmenyembuhkannya. Jika melanoma telah tumbuh jauh ke dalam kulit, akan lebihmungkinmenyebar melalui pembuluh getah bening dapembuluh darah dan bisa menyebabkankematiandalam beberapa bulan atau tahun. Perjalanan penyakit melanoma bervariasi dantampaknya dipengaruhi oleh kekuatan pertahananoleh sistem kekebalan tubuh. Beberapapenderita yang keadaan kesehatannya baik, bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun meskipunmelanomanya telah menyebar.

Tanda-tanda peringatan akan terbentuknya melanoma

  • bintik atau tahi lalat berpigmen (terutama yang berwarna hitam atau biru tua) yang semakin membesar
  • Perubahan warna pada tahi lalat, terutama pigmentasi merah, putih dan biru di kulit sekelilingnya
  • Perubahan pada kulit diatas bintik yang berpigmen, misalnya perubahan konsistensi atau bentuk
  • Tanda- tanda peradangan pada kulit di sekitar tahi lalat

Melanoma berasal dari melanosit, yang timbul dari puncak saraf dan bermigrasi ke epidermis,uvea, meninges, dan mukosa ectodermal. Melanosit, berada di kulit dan menghasilkan melaninpelindung, yang terkandung dalam lapisan basal epidermis, di antara dermis dan epidermis.Melanoma dapat berkembang di atau dekat lesi yang sudah ada sebelumnya atau di kulityangtampak sehat. Sebuah melanoma ganas yang berkembang dalam kulit yang sehat dapat dikatakantimbul de novo, tanpa bukti adanya lesi sebelumnya. Banyak dari melanoma yang diinduksi oleh radiasi matahari. Risiko terbesar yang disebabkan paparan sinar matahari-yang dapat menyebabkan melanoma dikaitkan dengan terbakar oleh sinar matahari secara akut, intens, dan berselang. Risiko ini berbeda dibandingkan dengan kanker sel skuamosa dan basal kulit, yangterkait dengan lama, paparan sinar matahari jangka panjang Melanoma juga dapat terjadi didaerah tidak terbakar kulit, termasuk telapak tangan, telapak kaki, dan perineum.lesi tertentu dianggap prekursor lesi melanoma, termasuk nevus diperoleh secara biasa, nevus displastik,nevus kongenital, dan nevus biru selular. melanoma memiliki 2 fase pertumbuhan, radial danvertikal. Selama fase pertumbuhan radial, sel-sel ganas tumbuh dalam mode radial padaepidermis Dengan waktu berlangsung, sebagian besar melanoma ke fase pertumbuhan vertikal,di mana sel-sel ganas menginvasi dermis dan mengembangkan kemampuan untuk bermetastasis.

  1. Manifestasi Klinis

Gejala atau tanda yang patut di curigai sebagai tanda keganasan suatu lesi adalah perubahan warna seperti lebih terang atau lebih gelap, gatal, perubahan bentuk menjadi tidak teratur atau nevus bertambah luas serta bertambah tebal, pertumbuhan horizontal dan vertikal, permukaan tidak rata, dan akhirnya pembentukan tukak. Pendarahan menandakan proses sudah sangat lanjut.

Bentuk dini sangat sulit dibedakan dengan tumor lainnya. Karena melanoma maligna merupakan penyakit yang fatal bila telah metastasis jauh, maka kemampuan untuk mengenali keganasan dini perlu diperdalam. Lokalisasi dilaporkan terbanyak di ekstremitas bawah, kemudian didaerah badan, kepala/leher, ektremitas atas, kuku. Kunci penyembuhan melanoma maligna adalah penemuan dini, sehingga diagnosis melanoma harus ditingkatkan bila penderita melaporkan adanya lesi berpigmen baru atau adanya tahi lalat yang berubah, seperti: berpigmen, yaitu:

  1. perubahan dalam warna
  2. perubahan dalam ukuran (terutama pertumbuhan yang cepat)
  3. timbulnya gejala (gatal, rasa terbakar, atau rasa sakit)
  4. terjadi peninggian pada lesi yang sebelumnya datar
  5. perubahan pada permukaan atau perubahan pada konsistensi lesi berpigmen
  6. berkembangnya lesi satelit
  7. Akademi dermatologi Amerika menekankan pentingnya ABCD saat mengevaluasi setiap lesi berpigmen, yaitu Asimetri, Border irregularity, Color variegation, Diameter yang lebih dari 6 mm
  1. Pemeriksaan Diagnostik

Selain biopsi dari dugaan lesi, laboratorium dan tes diagnostik digunakan menentukan keadaan tumor apakah telah metastase. Karena malignan melanoma dapat metastase pada beberapa organ atau jaringan dari tubuh, dilakukan macam-macam tes
Tes laboratorium termasuk seperti dibawah ini:

  1. Tes fungsi liver untuk menentukan keadaan tumor yang telah metastasis pada liver. Kombinasi dari elevasi LDH, alkaline phosphatase, dan SGOT mempengaruhi liver.
  2. Menghitung jumlah darah yang dilakukan untuk menentukan abnormalitas hematologi
  3. Tes serum darah dilakukan untuk mengindentifikasi elektrolit mineral yang abnormal).
  4. Biopsi lesi adalah hanya metode definitif pada diagnosa malignan melanoma. Eksisi biopsy adalah prosedur diagnostik dari pilihan karena dibawah ini lebih komplit histologic evaluasi dan tingkat mikroskop. Biopsi tidak harus dilakukan jika terduga melanoma, karena ketebalan dan dalamnya lesi tidak dapat di kaji, membuat keputusan tentang prognosis dan pengobatan sangat sulit.
  5. CT–scan liver menentukan jika enzim hati abnormal dan menentukan luasnya metastasis dari hati lebih akurat.
  6. X-ray dada dilakukan jika klien sulit bernafas atau hemoptisis, dimana rangsangan paru-paru menjadi metastasis.
  7. Scan tulang  dilakukan untuk menentukan metastatik karena tidak dapat menentukan nyeri tulang.
  8. CT scan atau  MQI dari otak yaitu menentukan pengkajian dari metastasis jika klien sakit kepala, seizure, atau defisit neurology.
  9. Biopsi jaringan dari limpa tulang belakang atau lesi kulit lain dilakukan untuk mengidentifikasi metastasis.
  1. Penatalaksanaan

Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker melanoma maligna ini adalah pengangkatan secara komplit jaringan kanker dengan jalan pembedahan, apabila telahdiketahui terjadi penyebaran maka dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan disekitarnya. Untuk pengobatan secara medikomentosa dengan kemoterapi (obat-obat antikanker) yang dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu: alkylating agents,antimetabolit, alkaloid tanaman, antibiotik antitumor, enzim, hormon dan pengubah respon biologis. Dan pengobatan secara nonmedikomentosa meliputi radioterapi, pembedahan dan terapi fisik.

  1. Komplikasi

Melanoma Maligna merupakan jenis kanker kulit yang paling ganas, dapat menyebar kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar limfa, menyebabkan hipertensi, hypercholesterolemia.

Metastasis dapat terjadi pada local (di dalam atau sekitar lesi primer), pada limfonodi, atau pada:

  1. Kulit yang jauh dari lesi primer
  2. Limfonodi yang jauh
  3. Organ-organ dalam
  4. Tulang

Metastasis dapat berlangsung cepat secara hematogen maupun limfogen.

ulkus mudah berdarah.

  1. Prognosis

Prognosis melanoma maligna sangat bervariasi. Ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya:

  1. Sifat tumor

Jenis tumor : untuk LMM mempunyai prognosis paling baik, kemudian SSM, sedangkan NM dan ALM mempunyai prognosis yang paling buruk
lokasi tumor: lesi pada ekstremitas mempunyai prognosis lebih baik daripada dibadan.

tingkat invasi dan kedalaman (ketebalan): makin dalam invasi tumor, prognosis makin buruk

  1. Stadium klinis

Angka ketahanan hidup 5 tahun pada melanoma berdasarkan stadium klinik yaitu:
• Stadium I (penyakit terbatas pada kulit): 80-85%

  • • Stadium II (mengenai limfonodi regional): 36%
  • • Stadium III (penyakit disseminata): kurang dari 5%
  1. Lokasi metastasis

Metastasis ke tulang dan hati mempunyai prognosis yang lebih buruk, dibanding bila terjadi metastasis ke kelenjar limfe dan kulit. Jika terdapat melanogen di urine maka prognosisnya lebih buruk.

  1. Faktor penderita
  • • Imunitas
  • • Keadaan umum
  • • Jenis kelamin, prognosis pada wanita lebih baik daripada pria
  1. Epidemiologi

Melanoma maligna predileksi pada orang kulit putih,wilayah Queensland Australia merupakan daerah insidentinggi yang terkenal. Pada tahun 1982 insidennya pada pria 18/100.000, pada wanita 17,6/100.000, angka itu masih terus meningkat. Amerika Serikat dalam 60 tahun silam memiliki pertumbuhan insiden melanoma malignayang tercepat, pada tahun 1935 dari 1500 orang Amerika Serikat ada 1 orang menderita melanoma maligna, tahun 1987 dari 135 orang ada 1 orang, pada tahun 2000 sudah berkembang menjadi dari 75 orang ada 1 menderita tumor ini. Di kalangan kulit berwarna kejadian melanoma maligna lebih rendah. Kejadiannya berkaitan dengan radiasi ultraviolet. Di kalangan penduduk sekitar Katulistiwa, angka kejadian dan kematian penyakit ini secara jelas lebih tinggi dari penduduk yang jauh dari Katulistiwa.

Asia Tenggara termasuk kawasan Katulistiwa, insiden melanoma maligna belum terdatasecara tepat, tapi penulis dalam beberapa kesempatanberbakti sosial sudah menemukan 6 kasus, tampaknya penyakit ini tidak jarang terjadi di wilayah ini. Insiden diantara kulit pria kulit putih meningkat 5,1% setiap tahun,93,3% secara keseluruhan, sedangkan pada wanita peningkatan hanya sebesar 3,8% pertahun,6,7 secara keseluruhan.
Melanoma maligma lebih sering terjadi kulit putih. Tempat yang paling sering terkena pada kulit gelap dalah telapak tangan,telapak kaki,jari tangan dan kaki,dan membare mukosa. Melanoma dapat terjadi pada usia remaja dan awal dua puluh tahun dan tiga puluh tahun. Bukti epidemiologis yang melibatkan pamparan matahari dalam menyebabkan melanoma didukung oleh bukti biologis bahwa kerusakan yang disebabkan oleh radiasi ultraviolet khusunya kerusakan DNA,memaikan peran inti dalam patogenesis tumor ini.

Di Amerika, didapatkan data enam dari tujuh penderita kanker ini meninggal dunia. Dan jumlah orang yang terserang meningkat dari tahun ke tahun. Melanoma Maligna bisa berkembang dari tahi lalat timbul yang sudah ada atau yang baru muncul.

  1. Pencegahan
    1. Penghindaran terhadap sinar matahari yang berlebihan,terutama usia 20, adalah pencegahan yang paling efektif.
    2. Tabir surya mungkin membantu, tetapi penelitian belum bias menyimpulkannya.
    3. Pemeriksaan kulit meyuluh pada diri sendiri direkomendasikan dalam sebuah penelitaian ternyata dapat mengurangi mortalitas melanoma sampai 65%.
    4. Asuhan primer teratur atau penapisan dermatologi memungkinkan lesi terdiagnosis pada stadium yang lebh awal.
  1. Konsep Keperawatan
  2. Pengkajian
    1. Anamneses
    2. Tanda-tanda Vital
    3. Aktivitas Istirahat
      Tanda : Keterbatasan mobilisasi/kehilangan pada bagian yang terkena (mungkin segera karena nyeri, pembengkakkan setelah tindakan aksisi dan graft kulit).
    4.  Sirkulasi
      Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai rspon terhadap nyeri/ansietas), takikardia (respon stress, hipovolemia), lesi cenderung sikuker dengan bagian luar yang tidak teratur
    5. Neurosensori
      Nyeri dada daerah karsinoma.
    6. Nyeri/Kenyamanan
      Gejala : Nyeri berat saat tindakan eksisi dan grafh kulit (mungin terlokasi pada area lesi yang di eksisi local yang luas dan pada grafh kulit)
    7. Keamanan
      Tanda : Lesi semakin menonjol, pendarahan lesi, perubahan local pada warna nodul (biasanya relative licin serta berwarna biru hitam yang seragam, dapat meningkat/berubah secara bertahap), serta nodul yang menebal, bersisik dan berulselasi.
    8. Penyuluhan /Pembelajaran
      Gejala : Lingkungan trauma, aktivitas perwatan dini dan tugas pemeliharaan/perwatan rumah
  1. Diagnosa Keperawatan
    1.  Nyeri berhubungan dengan pembedahan
    2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan
    3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit
    4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan, radioterapi dan kemoterapi topical.
  1. Rencana Keperawatan
    1. Nyeri Akut berhubungan dengan pembedahan

NOC : Pain Level, Pain control, Comfort level

1)      Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

2)      Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

3)      Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

4)      Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

NIC :

Manajemen nyeri :

1)      Kaji nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.

2)      Observasi  reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan.

3)      Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.

4)      Berikan lingkungan yang tenang

5)      Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri.

6)      Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.

7)      Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri.

8)      Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri.

Administrasi analgetik :

1)      Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.

2)      Cek riwayat alergi.

3)      Monitor tanda-tanda vital.

4)      Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul.

5)       Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping.

  1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan.

NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membrane

1)    Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)

2)    Tidak ada luka/lesi pada kulit

3)    Perfusi jaringan baik

4)     Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang

5)    Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

NIC : Pressure Management

1)     Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar

2)     Hindari kerutan padaa tempat tidur

3)     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

4)     Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali

5)     Monitor kulit akan adanya kemerahan

6)     Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan

7)     Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

8)     Monitor status nutrisi pasien

  1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit

NOC :Citra tubuh

1)      Gambaran internal tubuh

2)      Keseimbangan antara realita, ideal dan penampilan tubuh

3)       Kepuasan penampilan tubuh

4)      Pengaturan penampilan fisik tubuh

5)      Pengaturan perubahan fungsi tubuh

NIC : Perbaikan Citra Tubuh

1)      Kaji dugaan citra tubuh pasien, sesuai dengan perkembangannya.

2)      Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan yang terjadi akibat penyakit dan pembedahan.

3)      Bantu pasien memelihara perubahan tubuh

4)      Bantu pasien untuk membedakan penampilan fisik dari perasaan yang berharga

5)      Bantu pasien untuk menentukan akibat dari persepsi yang sama penampilan tubuh.

6)      Monitor pandangan diri secara berkala

7)      Monitor apakah pasien melihat perubahan pada bagian tubuh

8)      Monitor pernyataan tentang persepsi identitas diri sehubungan dengan bagian tubuh dan berat badan

  1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan, radioterapi dan kemoterapi topical.

NOC : Kowlwdge : disease process, Kowledge : health Behavior

1)      Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan

2)      Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benarv  Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya

NIC : Teaching : disease Process

1)      Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik

2)      Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.

3)      Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat

4)      Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat

5)      Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat

6)      Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat

7)       Hindari harapan yang kosong

8)      Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat

9)      Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit

10)  Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

11)  Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan

12)  Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat

13)  Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

  1. Aspek Legal Etik

Dalam kasus ini, peran perawat sebagai advokat harus bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam hal inform concern atas tindakan keperawatan yang dilakukan. Selain itu juga harus mempertahankan dan melindungi hak-hak klien serta memastikan kebutuhan klien terpenuhi.

  1. Otonomi

1)      Prinsip bahwa individu mempunyai hak menentuka diri sendiri, memperoleh kebebasan dan kemandirian.

2)      Perawat yang mengikuti prinsip ini akan menghargai keluhan gejala subjektif (misal : cemas), dan meminta persetujuan tindakan sebelum prosedur dilaksanakan.

  1. Nonmaleficience

1)      Prinsip menghindari tindakan yang membahayakan. Bahaya dapat berarti dengan sengaja, risiko atau tidak sengaja membahayakan.

2)      Contoh : kecerobohan perawat dalam memberikan pengobatan menyebabkan klien mengalami cedera

  1. Beneficience

1)      Prinsip bahwa seseorang harus melakukan kebaikan. Perawat melakukan kebaikan dengan mengimplementasikan tindakan yang menguntungkan/ bermanfaat bagi klien.

2)      Dapat terjadi dilema bila klien menolak tindakan tersebut, atau ketika petugas kesehatan berperan sebagai peneliti

  1. Justice

1)      Prinsip bahwa individu memiliki hak diperlakukan setara.

2)      Cth : ketika perawat bertugas sendirian sementara ada beberapa pasien di sana maka perawat perlu mempertimbangkan situasi dan kemudian melakukan tindakan secara adil.

  1. Fidelity

1)      Prinsip bahwa individu wajib setia terhadap komitmen atau kesepakatan dan tanggung jawab yang dimiliki.

2)      Kesetiaan juga melibatkan aspek kerahasiaan / privasi dan komitmen adanya kesesuaian antara informasi dengan fakta.

  1. Veracity

1)      Mengacu pada mengatakan kebenaran. Bok (1992) mengatakan bahwa bohong pada orang yg sakit atau menjelang ajal jarang dibenarkan.

2)      Kehilangan kepercayaan terhadap perawat dan kecemasan karena tidak mengetahui kebenaran biasanya lebih merugikan.

Fungsi Advokasi :

Perawat sebagai peran advokasi yaitu perawat memberikan bantuan serta memberikan informasi kepada klien tentang segala sesuatu yang dibutuhkan oleh klien dengan memperhatikan nilai-nilai serta hak-hak klien.

  1. Pendidikan kesehatan

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

Tema                    : Sistem Integumen

Subtema               : Pemberian Kemoterapi

Waktu                  : 30 menit

Sasaran                : klien dan keluarga

Hari                     : Selasa, 22 Mei 2013

  1. Tujuan Instruksional Umum

Setelah diberikan penyuluhan selama ± 30 menit, diharapkan klien dapat mengerti danmemahami tentang pentingnya kemoterapi bagi upaya penyembuhan penyakit.

  1. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah diberikan penyuluhan ± 30 menit diharapkan pasien dapat :

  1. Mengetahui definisi kemoterapi
  2. Mengetahui tujuan kemoterapi
  3. Mengetahui jenis kemoterapi
  4. Mengetahui prosedur kemoterapi
  1. Pokok Materi
    1. Definisi kemoterapi
    2. Tujuan kemoterapi
    3. Jenis kemoterapi
    4. Prosedur kemoterapi
  1. Metode
    1. Tanya jawab
    2. Ceramah
    3. Kegiatan
No. Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu

(menit)

1. Pembuka: Memberikan salam

Menyampaikan tujuan penyuluhan

Menjawab salam

Mendengarkan

5 menit
2. Isi: Menjelaskan :

  1. Definisi kemoterapi
  2. Tujuan kemoterapi
  3. Jenis kemoterapi
  4. Prosedur kemoterapi
Mendengarkan dan menyimak 20 menit
3 Penutup: Menyimpulkan

Evaluasi

Salam penutup

Menyimak

Menyimak

Menjawab salam

5 menit
  1. Evaluasi
    1. Formatif:

a)      Klien dapat memahami tentang pengertian kemoterapi

b)      Klien dapat memahami tentang tujuan kemoterapi

c)      Klien dapat memahami tentang jenis kemoterapi

d)     Klien dapat memahami tentang prosedur kemoterapi

  1. Somatif:

Klien dapat mengetahui dan memahami tentang kemoterapi

Yogyakarta, 5 Mei  2013

            Pembimbing                                                                                      Penyuluh

(                      )                                                                     (                        )

  1. Journal

Cyclin D1 ekspresi protein dalam Melanoma ganas dan Melanocytic Nevi

Willy Sandhika , Tulus Panuwun, Lusiani Tjandra

Departemen patologi anatomi fakultas kedokteran universitas airlangga

Departemen Farmasi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak
Latar Belakang: Melanoma adalah bentuk kanker kulit yang memiliki perilaku agresif dan resistensi terhadap terapi konvensional. Ini perilaku yang tidak biasa mencerminkan proses karsinogenesis unik yang melibatkan beberapa mutasi pada kromosom dan genom yang mengatur proliferasi dan proses apoptosis. Mutasi gen yang paling umum dalam tumor ganas cyclin D1. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan memainkan peran penting dalam karsinogenesis melanoma dari ekspresi gen ini.

Metode: blok parafin pasien melanoma dari Departemen patologis dikumpulkan dari periode Juli 2007 sampai Juni 2008. Lima kasus melanocytic Nevi ditambahkan sebagai kelompok kontrol. Blok kemudian dipotong dengan menggunakan mikrotom, ditempatkan pada slide mikroskopik yang diwarnai dengan antibodi monoklonal terhadap cyclin D1 masing-masing.

Hasil: melanoma spesimen menunjukkan 80% kasus positif cyclin D1. Data kemudian dianalisis secara statistik Mann Whitney dan hasilnya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam ekspresi cyclin D1 (p = 0,013, p <0,05) di melanoma ganas dibandingkan dengan nevus melanocytic.

Kesimpulan: cyclin D1 memainkan peran penting dalam karsinogenesis melanoma menunjukkan bahwa ada lain gen supresor tumor yang bermutasi dalam sel melanoma.

  1. Daftar Pustaka

Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta : EGC

Saputra, Lyndon dr. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Batam: Binarupa Aksara. Hal 164-165.

Sjamsuhidayat, R, Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah-Ed.2.Jakarta: EGC. Hal 695
Stephen J. Marx, M.D. “Hyperparathyroid And Hypoparathyroid Disorders”. The New England Journal of Medicine. Volume 343:1863-1875. December 21, 2000

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Omfalokel

MAKALAH  OMFALOKEL

 

  1. Pengertian Omfalokel

Omfalokel adalah penonjolan dari usus atau isi perut lainnya melalui akar pusar yang hanya dilapisi oleh peritoneum (selaput perut) dan tidak dilapisi oleh kulit. Omfalokel terjadi pada 1 dari 5.000 kelahiran. Usus terlihat dari luar melalui selaput peritoneum yang tipis dan transparan (tembus pandang).

Omfalokel (eksomfotos) merupakan suatu cacat umbilicus, tempat usus besar dan organ abdomen lain dapat menonjol keluar. Ia bisa disertai dengan kelainan kromosom, yang harus disingkirkan. Cacat dapat bervariasi dan diameter beberapa centimeter sampai keterlibatan dinding abdomen yang luas. Organ yang menonjol keluar ditutupi oleh lapisan tipis peritoneum yang mudah terinfeksi. Rongga abdomen sendiri sangat kecil, sehingga perbaikan bedah bisa sangat sulit atau tidak mungkin, kecuali bila dinding abdomen yang tersisa cukup dapat direntang untuk memungkinkan penempatan kembali isi abdomen. Penggantinya, cacat ini dapat ditutupi dengan bahan sintetis seperti silastic, yang dapat digulung ke atas, sehingga usus dapat didorong masuk secara bertahap ke dalam rongga abdomen dalam masa beberapa minggu. (Pincus Eatzel dan Len Roberts. 1995. Kapita Selekta Pediatri. EGC : Jakarta).

  1. Etiologi

Penyebab pasti terjadinya omphalokel belum jelas sampai sekarang. Beberapa faktor resiko atau faktor-faktor yang berperan menimbulkan terjadinya omphalokel diantaranya adalah infeksi, penggunaan obat dan rokok pada ibu hamil, defisiensi asam folat, hipoksia, penggunaan salisilat, kelainan genetik serta polihidramnion.

Menurut Glasser (2003) ada beberapa penyebab omfalokel, yaitu:

1.      Faktor kehamilan dengan resiko tinggi, seperti ibu hamil sakit dan terinfeksi, penggunaan obat-obatan, merokok dan kelainan genetik. Faktor-faktor tersebut berperan pada timbulnya insufisiensi plasenta dan lahir pada umur kehamilan kurang atau bayi prematur, diantaranya bayi dengan gastroschizis dan omfalokel paling sering dijumpai.

2.      Defisiensi asam folat, hipoksia dan salisilat menimbulkan defek dinding abdomen pada percobaan dengan tikus tetapi kemaknaannya secara klinis masih sebatas perkiraan. Secara jelas peningkatan MSAFP (Maternal Serum Alfa Feto Protein) pada pelacakan dengan ultrasonografi memberikan suatu kepastian telah terjadi kelainan struktural pada fetus. Bila suatu kelainan didapati bersamaan dengan adanya omfalokel, layak untuk dilakukan amniosintesis guna melacak kelainan genetik.

3.      Polihidramnion, dapat diduga adanya atresia intestinal fetus dan kemungkinan tersebut harus dilacak dengan USG.

  1. Tanda dan Gejala Omfalokel

Omfalokel yaitu hernia umbilikalis inkomplet terdapat waktu lahir ditutup oleh peritonium, selai Warton dan selaput amnion. Hernia umbilikalis biasanya tanpa gejala, jarang yang mengeluh nyeri. Banyaknya usus dan organ perut lainnya yang menonjol pada omfalokel bervariasi, tergantung kepada besarnya lubang di pusar. Jika lubangnya kecil, mungkin hanya usus yang menonjol, tetapi jika lubangnya besar, hati juga bisa menonjol melalui lubang tersebut.

  1. Penyebab Terjadinya Omfalokel

Omfalokel disebabkan oleh kegagalan alat dalam untuk kembali ke rongga abdomen pada waktu janin berumur 10 minggu sehingga menyebabkan timbulnya omfalokel. Kelainan ini dapat terlihat dengan adanya prostrusi (sembilan) dari kantong yang berisi usus dan visera abdomen melalui defek dinding abdomen pada umbilicus (umbilicus terlihat menonjol keluar).

Angka kematian tinggi bila omfalokel besar karena kantong dapat pecah dan terjadi infeksi. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Editor: Setiawan. Jakarta: EGC, 1997).

Pada 25-40% bayi yang menderita omfalokel, kelainan ini disertai oleh kelainan bawaan lainnya, seperti kelainan kromosom, hernia diafragmatika dan kelainan jantung.

  1. Penatalaksanaan Omfalokel

1.      Pengobatan

Omfalokel (eksomfalokel) adalah suatu hernia pada pusat, sehingga isi perut keluar dan dibungkus suatu kantong peritoneum. Penanganannya adalah secara operatif dengan menutup lubang pada pusat. Kalau keadaan umum bayi tidak mengizinkan, isi perut yang keluar dibungkus steril dulu setelah itu baru dioperasi.

Agar tidak terjadi cedera pada usus dan infeksi perut, segera dilakukan pembedahan untuk menutup omfalokel. Sebelum dilakukan operasi, bila kantong belum pecah, harus diberi merkurokrom dan diharapkan akan terjadi penebalan selaput yang menutupi kantong tersebut sehingga operasi dapat ditunda sampai beberapa bulan. Sebaiknya operasi dilakukan segera sesudah lahir, tetapi harus diingat bahwa dengan memasukkan semua isi usus dan otot visera sekaligus ke rongga abdomen akan menimbulkan tekanan yang mendadak pada paru sehingga timbul gejala gangguan pernapasan.

2.      Penatalaksanaan prenatal pada ompalokel

Apabila terdiagnosa omphalokel pada masa prenatal maka sebaiknya dilakukan informed consent pada orang tua tentang keadaan janin, resiko terhadap ibu, dan prognosis. Informed consent sebaiknya melibatkan ahli kandungan, ahli anak dan ahli bedah anak. Keputusan akhir dibutuhkan guna perencanaan dan penatalaksanaan berikutnya berupa melanjutkan kehamilan atau mengakhiri kehamilan. Bila melanjutkan kehamilan sebaiknya dilakukan observasi melalui pemeriksaan USG berkala juga ditentukan tempat dan cara melahirkan. Selama kehamilan omphalokel mungkin berkurang ukurannya atau bahkan ruptur sehingga mempengaruhi pronosis.

Oak Sanjai (2002) meyebutkan bahwa komplikasi dari partus pervaginam pada bayi dengan defek dinding abdomen kongenital dapat berupa distokia dengan kesulitan persalinan dan kerusakan organ abdomen janin termasuk liver. Walaupun demikian, sampai saat ini persalinan melalui sectio caesar belum ditentukan sebagai metode terpilih pada janin dengan defek dinding abdomen. Ascraft (1993) menyatakan bahwa beberapa ahli menganjurkan pengakhiran kehamilan jika terdiagnosa omphalokel yang besar atau janin memiliki kelainan konggenital multipel.

3.      Penatalaksanan postnatal (setelah kelahiran)

Penatalaksannan postnatal meliputi penatalaksanaan segera setelah lahir  (immediate postnatal), kelanjutan penatalakasanaan awal apakah berupa operasi atau nonoperasi (konservatif) dan penatalaksanaan postoperasi. Secara umum penatalaksanaan bayi dengan omphalokele dan gastroskisis adalah hampir sama. Bayi sebaiknya dilahirkan atau segera dirujuk ke suatu pusat yang memiliki fasilitas perawatan intensif neonatus dan bedah anak. Bayi-bayi dengan omphalokel biasanya mengalami lebih sedikit kehilangan panas tubuh sehingga lebih sedikit membutuhkan resusitasi awal cairan dibanding bayi dengan gastroskisis.

Konservatif

Dilakukan bila penutupan secara primer tidak memungkinkan, misalnya pada omfalokel dengan diameter > 5 cm. Perawatan dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a.       Bayi dijaga agar tetap hangat

b.      Kantong ditutup kasa steril dan ditetesi NaCl 0,9%

c.       Posisi penderita miring

d.      NGT diisap tiap 30 menit

 

4.      Penatalaksanaan nonnoperasi (konservatif)

Penatalaksanaan omfalokel secara konservatif dilakukan pada kasus omfalokel besar atau terdapat perbedaan yang besar antara volume organ-organ intraabdomen yang mengalami herniasi atau eviserasi dengan rongga abdomen seperti pada giant omphalocele atau terdapat status klinis bayi yang buruk sehingga ada kontra indikasi terhadap operasi atau pembiusan seperti pada bayi-bayi prematur yang memiliki hyaline embran disease atau bayi yang memiliki kelainan kongenital berat yang lain seperti gagal jantung. Pada giant omphalocele bisa terjadi herniasi dari seluruh organ-organ intraabdomen dan dinding abdomen berkembang sangat buruk, sehingga sulit dilakukan penutupan (operasi/repair) secara primer dan dapat membahayakan bayi. Beberapa ahli, walaupun demikian, pernah mencoba melakukan operasi pada giant omphalocele secara primer dengan modifikasi dan berhasil. Tindakan nonoperatif secara sederhana dilakukan dengan dasar merangsang epitelisasi dari kantong atau selaput. Suatu saat setelah granulasi terbentuk maka dapat dilakukan skin graft yang nantinya akan terbentuk hernia ventralis yang akan direpair pada waktu kemudian dan setelah status  kardiorespirasi membaik.

Beberapa obat yang biasa digunakan untuk merangsang epitelisasi adalah 0,25 % merbromin (mercurochrome), 0,25% silver nitrat, silver sulvadiazine dan povidone iodine (betadine). Obat-obat tersebut merupakan agen antiseptik yang pada awalnya memacu pembentukan eskar bakteriostatik dan perlahan-lahan akan merangsang epitelisasi. Obat tersebut berupa krim dan dioleskan pada permukaan selaput atau kantong  dengan elastik dressing yang sekaligus secara perlahan dapat menekan dan menguragi isi kantong.

5.      Indikasi terapi non bedah adalah:

Bayi dengan ompalokel raksasa (giant omphalocele) dan kelainan penyerta yang mengancam jiwa dimana penanganannya harus didahulukan daripada omfalokelnya. Neonatus dengan kelainan yang menimbulkan komplikasi bila dilakukan pembedahan. Bayi dengan kelainan lain yang berat yang sangat mempengaruhi daya tahan hidup.

Prinsip kerugian dari metode ini adalah kenyataan bahwa organ visera yang mengalami kelainan tidak dapat diperiksa, sebab itu bahaya yang terjadi akibat kelainan yang tidak terdeteksi dapat menyebabkan komplikasi misalnya obstruksi usus yang juga bisa terjadi akibat adhesi antara usus halus dan kantong.

Jika  infeksi dan ruptur kantong dapat dicegah, kulit dari dinding anterior abdomen secara lambat akan tumbuh menutupi kantong, dengan demikian akan terbentuk hernia ventralis, karena sikatrik yang terbentuk biasanya tidak sebesar bila dilakukan operasi. Metode ini terdiri dari pemberian lotion antiseptik secara berulang pada kantong, yang mana setelah beberapa hari akan terbentuk skar. Setelah sekitar 3 minggu, akan terjadi pembentukan jaringan granulasi yang secara bertahap karena terjadi epitelialisasi dari tepi kantong. Penggunaan antiseptik merkuri sebaiknya dihindari karena  bisa menghasilkan  blood and tissue levels of mercury well above minimum toxic levels. Alternatif lain yang aman adalah alkohol 65% atau 70% atau gentian violet cair 1%. Setelah keropeng tebal terbentuk,bubuk antiseptik dapat digunakan. Hernia ventralis memerlukan tindakan kemudian tetapi kadang-kadang menghilang secara komplet.

6.      Penatalaksanaan dengan operasi

Tujuan mengembalikan organ visera abdomen ke dalam rongga abdomen dan menutup defek. Dengan adanya kantong yang intak, tak diperlukan operasi emergensi, sehingga seluruh pemeriksaan fisik dan pelacakan kelainan lain yang mungkin ada dapat dikerjakan. Keberhasilan penutupan primer tergantung pada ukuran defek serta kelainan lain yang mungkin ada (misalnya kelainan paru).

Tujuan operasi atau pembedahan ialah memperoleh lama ketahanan hidup  yang optimal dan menutup defek dengan cara mengurangi herniasi organ-organ intra abomen, aproksimasi dari kulit dan fascia serta dengan lama tinggal di RS yang pendek. Operasi dilakukan setelah tercapai resusitasi dan status hemodinamik stabil. Operasi dapat bersifat darurat bila terdapat ruptur kantong dan obstruksi usus.

Operasi dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu primary closure (penutupan secara primer atau langsung) dan staged closure (penutupan secara bertahap).

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

sistem pencernaan

Poses Pencernaan

Video | Posted on by | Meninggalkan komentar

Fisiologi Jantung

Video | Posted on by | Meninggalkan komentar

Askep Penyakit Jantung Paru (Cor Pulmonal)

PENYAKIT JANTUNG PARU (KOR PULMONAL)

A.    Konsep Medis

  1. Pengertian

Menurut Irman Sumantri (2009), Kor pulmonal adalah terjadinya pembesaran dari jantung kanan (dengan atau tanpa gagal jantung kiri) sebagai akibat dari penyakit yang mempengaruhi struktur atau fungsi dari paru-paru atau vaskularisasinya.

Pulmonary heart disease adalah pembesaran ventrikel kanan (hipertrofi dan/atau dilatasi) yang terjadi akibat kelainan paru, kelainan dinding dada, atau kelainan pada kontrol pernafasan. Tidak termasuk di dalamnya kelainan jantung kanan yang terjadi akibat kelainan jantung kiri atau penyakit jantung bawaan.Gambar

Pulmonary heart disease dapat terjadi akut maupun kronik. Penyebab pulmonary heart disease akut tersering adalah emboli paru masif, sedangkan pulmonary heart disease kronik sering disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Pada pulmonary heart disease kronik umumnya terjadi hipertrofi ventrikel kanan, sedangkan pada pulmonary heart disease akut terjadi dilatasi ventrikel kanan.

Tidak semua pasien PPOK akan mengalami pulmonary heart disease, karena banyak usaha pengobatan yang dilakukan untuk mempertahankan kadar oksigen darah arteri mendekati normal sehingga dapat mencegah terjadinya Hipertensi Pulmonal. Pada umumnya, makin berat gangguan keseimbangan ventilasi perfusi, akan semakin mudah terjadi ganguan analisis gas darah sehingga akan semakin besar terjadinya Hipertensi Pulmonal dan pulmonary heart disease. Penyakit yang hanya mengenai sebagian kecil paru tidak akan begitu mempengaruhi pertukaran gas antara alveoli dan kapiler sehingga jarang menyebabkan terjadinya Hipertensi Pulmonal dan pulmonary heart disease. Tuberculosis yang mengenai kedua lobus paru secara luas akan menyebabkan terjadinya fibrosis disertai gangguan fungsi paru sehingga menyebabkan terjadinya pulmonary heart disease. Hipoventilasi alveoli sekunder akibat sleep apnea syndrome tidak jarang disertai dengan Hipertensi Pulmonal dan pulmonary heart disease Kronik.

  1. Anatomi Dan Fisiologi

Saluran pernafasan bagian atas terdiri atas :

  1. Lubang hidung (cavum nasalis )

Hidung dibentuk oleh tulang sejati (os) dan tulang rawan (kartilago). Hidung dibentuk oleh sebagian tulang sejati, sisanya terdiri atas kartilago dan jaringan ikat (connective tissue). Bagian dalam hidung merupakan suatu lubang yang dipisahkan menjadi lubang kiri dan kanan oleh sekat (septum). Rongga hidung mengandung rambut (fimbrie) yang berfungsi sebagai penyaring (filter) kasar terhadap benda asing yang masuk. Pada permukaan (mukosa) hidung terdapat epitel bersilia yang mengandung sel goblet. Sel tersebut mengeluarkan lender sehingga dapat menangkap benda asing yang masuk ke dalam saluran pernafasan. Kita dapat mencium aroma karena di dalam lubang hidung terdapat reseptor. Reseptor bau terletak pada cibriform plate, didalamnya terdapat ujung dari saraf krania I (nervous olfactorium)

Hidung berfungsi sebagai jalan nafas, pengatur udara, pengatur kelembaban udara (humidifikasi), pengatur suhu, pelindung dan penyaring udara, indra pencium, dan resonator suara. Fungsi hidung sebagai pelindung dan penyaring dilakukan oleh vibrissa, lapisan lender, dan enzim lozosim. Vibrissa adalah rambut vestibulum nasi yang bertugas sebagai penyaring debu dan kotoran (partikel berukuran besar). Debu-debu kecil dan kotoran (partikel kecil) yang masih dapat melewati vibrissa akan melekat pada lapisan lender dan selanjutnya dikeluarkan oleh refleks bersin. Jika dalam udara masih terdapat bakteri (partikel sangat kecil), maka enzim lizosim yang menghancurkannya.

  1. Sinus para nasal

Sinus para nasalis merupakan daerah yang terbuka pada tulang kepala. Dinamakan sesuai dengan tulang tempat dia berada yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus sphenoidalis, dan sinus maxilaris. Sinus berfungsi untuk :

1)      Membantu menghangatkan dan humidifikasi

2)      Meringankan berat tulang tengkorak

3)      Mengatur bunyi suara manusia dengan ruang resonansi

  1. Faring

Faring merupakan pipa berotot berbentuk cerobong (+ 13 cm) yang letaknya bermula dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan esophagus pada ketinggian tulang rawan (kartilago) krikoid. Faring digunakan pada saat digestion (menelan) seperti pada saat bernafas. Berdasarkan letaknya faring dibagi menjadi tiga yaitu dibelakang hidung (nasi-faring), belakang mulut (oro-faring), dan belakang (laringo-faring).

  1. Laring

Laring sering disebut dengan voice box dibentuk oleh struktur epitrlium lined yang berhubungan dengan faring (di atas) dan trakea (di bawah). Lring terletak di anterior tulang belakang (vertebra) ke-4

dan ke-6. Bagian atas dari esophagus berada di posterior laring.

Fungsi utama laring adalah untuk pembetukan suara, sebagai protek jalan nafas bawah dari benda asing dan untuk memfasilitasi proses terjadinya batuk. Laring terdiri atas :

1)      Eoiglotis : katup kartilago yang menutup dan membuka selama menelan.

2)      Glotis : lubang antara pita suara dan laring.

3)      Kartilago tiroid : kartilago yang terbesar pada trachea, terdapat bagian yang membentuk jakun (adams apple).

4)      Kartilago krikoid : cicin kartilago yang utuh di laring (terletak di bawah kartilago tiroid).

5)      Kartilago aritenoid : digunakan pada pergerakan pita suara bersama dengan kartilago tiroid.

6)      Pita suara : sebuah ligament yang dikontrol oleh pergerakan otot yang menghasilkan suara dan menempel pada lumen laring.

Saluran pernafasan bagian bawah (tracheobronchial tree) terdiri atas :

  1. Trachea

Trachea merupakan perpanjangan dari laring pada ketinggian tulang vertebrae torakal ke-7 yang bercabang menjadi dua bronkus. Ujung cabang trachea disebut carina. Trachea bersifat sangat fleksibel, berotot dan memiliki panjang 12 cm dengan cincin kartilago berbentuk huruf C. pada cincin tersebut terdapat epitel bersilia tegak yang mengandung banyak sel goblet yang mensekresikan lender (mucus).

  1. Bronchus dan bronkhiolus

Cabang bronchus kanan lebih pendek, lebih lebar, dan cenderung lebih vertical daripada cabang yang kiri. Hal tersebut menyebabkan benda asing lebih mudah masuk ke dalam cabang sebelah kanan daripada cabang bronchus sebelah kiri.

Segmen dan subsegmen bronchus bercabang lagi dan berbentuk seperti ranting masuk ke setiap paru-paru. Bronchus disusun oleh jaringan kartilago sedangkan bronkiolus yang berakhir di alveoli tidak mengandung kartilago. Tidak adanya kartilago menyebabkan bronkhiolus mampu menangkap udara, namun juga dapat mengalami kolaps. Agar tidak kolaps, alveoli dilengkapi dengan porus/lubang kecil yang terletak antar alveoli (kohn pores) yang berfungsi untuk mencegah kolaps alveoli.

Saluran pernafasan mulai dari trakea sampai bronkiolus terminal tidak mengalami pertukaran dan merupakan area yang dinamakan anatomical dead space. Banyaknya udara yang berada dalam area tersebut adalah sebesar 150 ml. awal dari proses pertukaran gas terjadi di bronkeolus respiratorius.

  1. Alveoli

Parenkim paru-paru merupakan area yang aktif bekerja dari jaringan paru-paru. Parenkim tersebut mengandung berjuta-juta unit alveolus. Alveolus merupakan kantong udara yang berukuran sangat kecil, dan merupakan akhir dari bronkhiolus respiratorius sehingga memungkinkan pertukaran O2  dan CO2. Seluruh dari unit alveoli terdiri dari bronkhiolus respiratorius, duktus alveolus, dan alveolar sacs. Fungsi utama dari unit alveolus adalah pertukaran O2 dan CO2 di antara kapiler pulmoner dan alveoli.

  1. Paru-paru

Paru-pau terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang ujungnya berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Kelima lobus tersebut dapat terlihat dengan jelas. Setiap paru-paru terbagi lagi menjadi beberapa subbagian menjadi sekita sepuluh unit terkecil yang disebut bronchopulmonary segments.

Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang sebut mediastinum. Jantung, aorta, vena cava, pembuluh paru-paru, esophagus bagian dari trachea dan bronchus, serta kelenjar timus terdapat pada mediastinum.

Sirkulasi pulmoner

Suplai darah ke dalam paru-paru merupakan suatu yang unik. Paru-paru mempunyai dua sumber suplai darah yaitu arteri bronkhialis dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronchial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi siatemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolism jaringan paru-paru. Arteri bronkhialis berasal dari aorta torakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronchus. Vena bronkhialis akan mengalirkan darah menuju vena pulmonalis.

Kendali pernafasan

Fungsi mekanik pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-pau dinamakan ventilasi. Mekanisme tersebut dilaksanakan oleh sejumlah komponen factor yang saling berinteraksi. Factor tersebut mengendalikan proses masuknya udara ke dalam paru-paru agar pertukaran gas dapat berlangsung. Factor yang dapat mengendalikan pernafasan adalah :

  1. Factor local

Kondisi paru itu sendiri dan dinding dada yang mengelilingi paru-paru, dimana keduanya berperan dalam pompa resiprokatif (timbale balik) yang disebut hembusan nafas.

  1. Control medulla oblongata

Sebagai pusat control pernafasan, terdapat daerah ritmik medulla oblongata yang terdiri dari neuron inspirasi dan ekspirasi.

  1. Control pons

Mengatur transisi dari fase inspirasi ke ekspirasi

  1. Reflek hering –breur

Reseptor yang mengatur tingkat peregangan paru-paru sebagai pelindung agar tidak terjadi pengembangan yang berlebihan.

  1. Kendali korteks

Kendali korteks terbatas yaitu hanya dapat mengubah ritmik sebagai proteksi terhadap paru-paru.

  1. Efek latihan jasmani

Olahraga berat menyebabkan penggunaan O2 lebih besar dan poduk CO2 lebih besar pula.

  1. efek altitude/ ketinggian

tempat ketinggian akan menyebabkan penurunan tekanan oksigen atmosfer, akibatnya seseorang yang berada pada tempat tinggi akan mengalami peningkatan ritme nafas, denyut jangtung, dan kedalaman pernafasan yang lazim terlihat pada seseorang yang sedang melakukan aktivitas.

Fisiologi pernafasan

Proses respirasi dapat dibagi menjadi tiga proses utama :

  1. ventilasi pulmonal adalah proses  keluar masuknya udara dan atmosfer dal alveoli paru-paru
  2. difusi adalah proses pertukaran O2 dan Co2 antara alveoli dan darah
  3. transfortasi adalah proses beredarnya gas dalam darah dan cairan tubuh ked an dari sel-sel

Proses fisiologi respirasi dibagi menjadi tiga stadium yaitu :

  1. difusi gas-gas antara alveolus dengan kapiler paru-paru dan darah sistemik dengan sel-sel jaringan.
  2. Distribusi darah adalah sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus-alveolus.
  3. Reaksi kimia dan fisik O2 dan CO2 dengan darah

Proses repirasi eksternal

  1. Ventilasi

Udara bergerak masuk dan keluar dari paru-paru dikarenakan adanya selisih tekanan udara di atmosfer dan alveolus dan didukung oleh kerja mekanik otot-otot. Selama inspirasi, volume rongga dada bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot. Otot serratus, otot skaleneus, dan otot interkostalis eksternus berperan mengangkat iga, sedangkan otot sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas.

  1. Difusi

Stadium kedua proses respirasi mencakup proses difusi gas-gas melintasi membrane antara alveolus-kapiler yang tipis. Kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. Tekanan O2 dalam atmosfer sama dengan tekanan laut yakni + 149 mmHg.

Pada waktu O2 diinspirasi dan sampai pada alveolus, tekanan parsial ini mengalami penurunan sampai sekitar 103 mmHg sebagai akibat dari udara yang tercampur dengan ruang rugi anatomis pada saluran udara dan dengan uap air.

  1. Transportasi

Transportasi gas antar paru-paru dan jaringan meliputi proses-proses berikut ini :

1)      Transport oksigen dalam darah

Sistem pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri atas paru-paru dan sistem kardiovaskuler.

2)      Transport karbonsioksida dalam darah

3)      Kurva disosiasi oksihemoglobin

Oksihemoglobin adala struktur terikatnya oksigen pada hemoglobin.

  1. Etiologi

Banyak penyakit yang mempengaruhi paru dan hubungan dengan hipoksemia dapat menyebabkan kor pulmonal disebabkan oleh hal-hal berikut ini.

  1. Penyakit paru-paru merata

Terutama emfisema, bronchitis kronis (COPD), dan fibrosis akibat TB

  1. Penyakit pembuluh darah paru

Terutama thrombosis dan embolus paru dan fibrosis akibat penyinaran yang menyebabkan penurunan elastisitas pembuluh darah paru.

  1. Hipoventilasi alveolar menahun

Yaitu semua penyakit yang menghalangi pergerakan dada normal, seperti :

1)      Penebalan pleura bilateral

2)      Kelainan neuromuskuler, misalnya poliomyelitis dan distrofi otot

3)      Kifoskoliosis yang mengakibatkan penurunan kapasistas rongga torak sehingga pergerakan torak berkurang

  1. Penyebab penyakit pulmonary heart disease antara lain :

1)    Penyakit paru menahun dengan hipoksia :

a)      Penyakit paru obstrutif kronik,

b)      Fibrosis paru,

c)      Penyakit fibrokistik,

d)     Cryptogenic fibrosing alveolitis,

e)      Penyakit paru lain yang berhubungan dengan hipoksia

2)        Kelainan dinding dada : Kifos koliosis, torakoplasti, fibrosis pleura

      Penyakit neuromuscular

3)    Gangguan mekanisme control pernafasan :

       Obesitas, hipoventilasi idopatik,

       Penyakit serebro vascular.

4)    Obstruksi saluran nafas atas pada anak :

a) Hipertrofi tonsil dan adenoid.

5)    Kelainan primer pembuluh darah :

Hipertensi pulmonale primer emboli paru berulang dan vaskulitis pembuluh darah paru.

(nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id)

  1. Klasifikasi

Secara umum kor pulmonal di bagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut

  1. Kor pulmonal akut

Yaitu dilatasi mendadak dari ventrikel kanan dan dekompensasi.

Etiologi : embolus multiple pada paru-paru atau massif yang secara mendadak akan menyumbat aliran darah dan ventrikel kanan.

Gejala : biasanya segera di susul oleh kematian, Terjadi dilatasi dari jantung kanan.

  1. Kor pulmonal kronik

Merupakan jenis kor pulmonal yang paling sering terjadi. Dinyatakan sebagai hipertropi ventrikel kanan akibat penyakit paru atau pembuluh darah atau adanya kelainan pada torak, yang akan menyebabkan hipertensi dan hipoksia sehingga terjadi hipertropi ventrikel kanan.

Mekanisme terjadinya hipertensi pulmonale pada cor pulmunale dapat di bagi menjadi 4 kategori yaitu :

  1. Obstuksi

Terjadi karena adanya emboli paru baik akut maupun kronik. Chronic Thromboembolic Pulmonary Hypertesion (CTEPH) merupakan salah satu penyebab hipertensi pulmonale yang penting dan terjadi pada 0.1 – 0.5 % pasien dengan emboli paru. Pada saat terjadi emboli paru, system fibrinolisis akan bekerja untuk melarutkan bekuan darah sehingga hemodinamik paru dapat berjalan dengan baik. Pada sebagian kecil pasien system fibrinolitik ini tidak berjalan baik sehingga terbentuk emboli yang terorganisasi disertai pembentukkan rekanalisasi dan akhirnya menyebabkan penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah paru.

  1. Obliterasi

Penyakit intertisial paru yang sering menyebabkan hipertensi pulmonale adalah lupus eritematosus sistemik scleroderma, sarkoidosis, asbestosis, dan pneumonitis radiasi. Pada penyakit-penyakit tersebut adanya fibrosis paru dan infiltrasi sel-sel yang prodgersif selain menyebabkan penebalan atau perubahan jaringan interstisium, penggantian matriks mukopolisakarida normal dengan jaringan ikat, juga menyebabkan terjadinya obliterasi pembuluh paru.

  1. Vasokontriksi

Vasokontriksi pembuluh darah paru berperan penting dalam pathogenesis terjadinya hipertensi pulmonale. Hipoksia sejauh ini merupakan vasokontrikstor yang paling penting. Penyakit paru obstruktif kronik merupakan penyebab yang paling di jumpai. Selain itu tuberkolosis dan sindrom hipoventilasi lainnya misalnya sleep apnea syndrome, sindrom hipoventilasi pada obesitas, dapat juga menyebabkan kelainan ini. Asidosis juga dapat berperan sebagai vasokonstriktor pembuluh darah paru tetapi dengan potensi lebih rendah. Hiperkapnea secara tersendiri tidak mempunyai efek fasokonstriksi tetepi secara tidak langsung dapat meningkatkan tekanan arteri pulmunalis melalui efek asidosisnya. Eritrositosis yang terjadi akibat hipoksia kronik dapat meningkatkan vikositas darah sehingga menyebabkan peningkatan tekanan arteri pumonalis.

  1. Idiopatik

Kelainan idiopatik ini di dapatkan pada apsien hipertensi pulmonale primer yang di tandai dengan adanya lesi pada arteri pumonale yang kecil tanpa di dapatkan adanya penyakit dasar lainnya baik pada paru maupun pada jantung. Secara histopatologis di dapatkan adanya hipertrofitunikamedia, fibrosistunikaintima, lesi pleksiform serta pembentukan mikro thrombus. Kelainan ini jarang di dapat dan etiologinya belum di ketahui Waupun sering di kaitkan dengan adanya penyakit kolagen, hipertensi portal, penyakit autoimun lainnya serta infeksi HIV.

  1. Patofisiologi

Beratnya pembesaran ventrikel kanan pada kor pulmonal berbaring lurus dengan fungsi pembesaran dari peningkatan afterload. Jika resistensi vaskuler paru meningkat dan relative tetap, seperti pada penyakit vaskuler atau parenkim paru, peningkatan curah jantung sebagaimana terjadi pada pengerahan tenaga fisik, maka dapat meningkatkan tekanan arteri pulmonalis secara bermakna. Afterload ventrikel kanan secara kronik meningkat jika volume paru membesar, seperti pada penyakit COPD, pemanjangan pembuluh paru, dan kompresi kapiler alveolar.

Pathway

     
   
 
   

Penyakit paru dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan pada suatu waktu akan mempengaruhi jantung serta menyebabkan pembesaran ventrikel kanan. Kondisi ini sering kali menyebabkan terjadinya gagal jantung. Beberapa kondisi yang menyebabkan penurunan oksigenasi paru dapat mengakibatkan hipoksemia (penurunan PaO2) dan hiperkapnea (peningkatan PaO2), yang nantinya akan mengakibatkan insufisiensi ventilasi. Hipoksia dan hiperkapnea akan menyebabkan vasokontriksi arteri pulmonal dan memungkinkan terjadinya penurunan vaskularisasi paru seperti pada emfisemi dan emboli paru. Akibatnya akan terjadi peningkatan tahanan pada sistem sirkulasi pulmonal, yang akan menjadikannya hipertensi pulmonal. Tekanan rata-rata pada arteri paru (arterial mean pressure) adalah 45 mmHg, jika tekanan ini meningkat dapat menimbulkan kor pulmonal. Ventrikel kanan akan hipertropi dan mungkin diikuti oleh gagal jantung kanan.

  1. Manifestasi Klinik

Gejala klinis yang muncul pada klien dengan penyakit kor pulmonal adalah sebagai berikut.

  1. Sesuai dengan penyakit yang melatarbelakangi, misalnya COPD akan menimbulkan gejala nafas pendek, dan batuk.
  2. Gagal ventrikel kanan akan muncul, distensi vena leher, liver palpable , efusi pleura, asites, dan murmur jantung.
  3. Sakit kepala, confusion, dan somnolen terjadi akibat peningkatan PCO2.

Informasi yang di dapat bisa berbeda-beda antara satu  penderita yang satu dengan yang lain tergantung pada penyakit dasar yang menyebabkan pulmonary heart disease.

  1. Kor-pumonal akibat Emboli Paru : sesak tiba-tiba pada saat istirahat, kadang-kadang didapatkan batuk-batuk, dan hemoptisis.
  2. Kor-pulmonal dengan PPOM : sesak napas disertai batuk yang produktif (banyak sputum).
  3. Cor pulmonal dengan Hipertensi Pulmonal primer : sesak napas dan sering pingsan jika beraktifitas (exertional syncope).
  4. Pulmonary heart disease dengan kelainan jantung kanan : bengkak pada perut dan kaki serta cepat lelah.

Gejala predominan pulmonary heart disease yang terkompensasi berkaitan dengan penyakit parunya, yaitu batuk produktif kronik, dispnea karena olahraga, wheezing respirasi, kelelahan dan kelemahan. Jika penyakit paru sudah menimbulkan gagal jantung kanan, gejala – gejala ini lebih berat. Edema dependen dan nyeri kuadran kanan atas dapat juga muncul.

Tanda- tanda pulmonary heart disease misalnya sianosis, clubbing, vena leher distensi, ventrikel kanan menonjol atau gallop ( atau keduanya), pulsasi sternum bawah atau epigastrium prominen, hati membesar dan nyeri tekan, dan edema dependen.

Gejala- gejala tambahan ialah: Sianosis, Kurang tanggap/ bingung, Mata menonjol

  1. Pemeriksaan Penunjang
    1. Pemeriksaan radiologi

Perluasan hilus dapat dinilai dari perbandingan jarak antara permulaan percabangan pertama arteri pulmonalis utama kanan dan kiri dibagi dengan diameter transversal torak. Perbandingan > 0,36 menunjukkan hipertensi pulmonal.

Batang pulmonal dan hilus membesar

  1. Ekokardiografi

Memungkinkan pengukuran ketebalan dinding ventrikel kanan, meskipun perubahan volume tidak dapat diukur, teknik ini dapat memperlihatkan pembesaran kavitas ventrikel kanan dalam yang menggambarkan adanya pembesaran ventrikel kiri. Septum interventrikel dapat bergeser ke kiri.

  1. Magnetic resonance imaging (MRI)

Berguna untuk mengukur massa ventrikel kanan, ketebalan dinding, volume kavitas, dan fraksi ejeksi.

  1. Biopsi paru

Dapat berguna untuk menunjukkan vaskulitis pada beberapa tipe penyakit vaskuler paru seperti penyakit vaskuler kolagen, arthritis rheumatoid, dan Wegener granulomatosis.

  1. Penatalaksanaan Medis

Tujuan dari penatalaksanaan adalah peningkatan ventilasi klien dan mengobati penyakit yang melatarbelakangi beserta manifestasi dari gagal jantungnya.

Secara umum penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Pada klien dengan penyakit asal COPD dapat diberikan O2 pemberian O2 sangat dianjurkan untuk memperbaiki pertukaran gas dan menurunkan tekanan arteri pulmonal dan tahanan vaskuler pulmonal.
  2. Bronchial hygiene, diberikan obat golongan bronkodilator.
  3. Jika terdapat gejala gagal jantung, maka harus memperbaiki kondisi hipoksemia dan hiperkapnea.
  4. Bedrest, diet rendah sodium, dan pemberian diuretic
  5.  Digitalis, bertujuan untuk meningkatkan kontraktilitas dan menurunkan denyut jantung, selain itu juga mempunyai efek digitalis ringan.
  6. Komplikasi

Komplikasi dari pulmonary heart disease diantaranya: 

  1. Sinkope
  2. Gagal jantung kanan
  3. Edema perifer
  4. Kematian
  5. Prognosis             

Belum ada pemeriksaan prospektif yang dilakukan untuk mengetahui prognosis  pulmonary heart disease kronik. Pengamatan yang dilakukan tahun 1950 menunjukkan bahwa bila terjadi gagal jantung kanan yang menyebabkan kongestinvena sistemik, harapan hidupnya menjadi kurang dari 4 tahun.

Walaupun demikian, kemampuan dalam penanganan pasien selama episode akut yang berkaitan dengan infeksi dan gagal napas mangalami banyak kemajuan dalam 5 tahun terakhir.

Prognosis pulmonary heart disease berkaitan dengan penyakit paru yang mendasarinya. Pasien yang mengalami pulmonary heart disease akibat obeliterasi pembuluh darh arteri kecil yang terjadi secara perlahan-lahan akibat penyakit intrinsiknya (misal emboli), atau akibat  fibrosis intertisial harapan juntuk perbaikannya kecil karena kemungkinan perubahan anatomi yang terjadi subah menetap. Harapan hidup pasien PPOK jauh lebih baik bila analisis gas darahnya dapat dipertahankan mendekati normal.

  1. Pencegahan
    Menghindari perilaku yang mengarah pada penyakit paru-paru kronis (terutama merokok) dapat mencegah perkembangan akhir cor pulmonale. Evaluasi seksama murmur jantung anak dapat mencegah cor pulmonale yang disebabkan oleh cacat jantung tertentu.

(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth)

  1. B.     Konsep Keperawatan
  1. Pengkajian

Anamnesa,meliputi:

  1. Identitas pasien

Kor pulmonal dapat terjadi pada orang dewasa dan pada anak-anak. Untuk orang dewasa, kasus yang paling sering ditemukan adalah pada lansia karena sering didapati dengan kebiasaan merokok dan terpapar polusi. Hal ini di dasarkan pada epidemiologi penyakit-penyakit yang menjadi penyebab kor pulmonal, karena hipertensi pulmonal merupakan dampak dari beberepa penyakit yang menyerang paru-paru.

Untuk kasus anak-anak, umumnya terjadi kor pulmonal akibat obstruksi saluran napas atas seperti hipertrofi tonsil dan adenoid.

Jenis pekerjaan yang dapat menjadi resiko terjadinya kor pulmonal adalah para pekerja yang sering terpapar polusi udara dan kebiasaan merokok yang tinggi.

Lingkungan tempat tinggal yang dapat menjadi resiko terjadinya kor pulmonal adalah lingkungan yang dekat daerah perindustrian, dan kondisi rumah yang kurang memenuhi persyaratan rumah yang sehat. Contohnya ventilasi rumah yang kurang baik,hal ini akan semakin memicu terjadinya penyakit-penyakit paru dan berakibat terjadinya kor pulmonal.

  1. Riwayat Sakit dan Kesehatan

1)                      Keluhan utama

Pasien dengan kor pulmonal sering mengeluh sesak, nyeri dada

2)                      Riwayat penyakit saat ini

Pada pasien kor pulmonal, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda mudah letih, sesak, nyeri dada, batuk yang tidak produktif. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhan tersebut.

Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.

Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan, biasanya disertai sesak nafas.

 Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.

Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa lamanya kelemahan beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas

3)   Riwayat penyakit dahulu

Klien dengan kor pulmonal biasanya memilki riwayat penyakit seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), fibrosis paru, fibrosis pleura, dan yang paling sering adalah klien dengan riwayat hipertensi pulmonal.

  1. Pemeriksaan fisik : Review Of System (ROS)

1)      B1 (BREATH)

  • Pola napas : irama tidak teratur
  • Jenis: Dispnoe
  • Suara napas: wheezing
  • Sesak napas (+)

2)      B2 (BLOOD)

  • Irama jantung : ireguler s1/s2 tunggal (-)
  • Nyeri dada (+)
  • Bunyi jantung:  murmur
  • CRT : tidak terkaji
  • Akral : dingin basah

3)      B3 (BRAIN)

  • Penglihatan(mata)

–       Pupil : tidak terkaji

–       Selera/konjungtiva : tidak terkaji

  • Gangguan pendengaran/telinga: tidak terkaji
  • Penciuman (hidung) : tidak terkaji
  • Pusing
  • Gangguan kesadaran

4)      B4 (BLADDER)

  • Urin:

–       Jumlah : kurang dari 1-2 cc/kg BB/jam

–       Warna : kuning pekat

–       Bau : khas

  • Oliguria

5)      B5 (BOWEL)

  • Nafsu makan : menurun
  • Mulut dan tenggorokan : tidak terkaji
  • Abdomen : asites
  • Peristaltic : tidak terkaji

6)      B6 (BONE)

  • Kemampuan pergerakan sendi: terbatas
  • Kekuatan otot : lemah
  • Turgor : jelek
  • Oedema
  1. Psikososial

Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, kecemasan terhadap penyakit.

  1. Diagnosa keperawatan
  1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen, obstruksi alveoli
  2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan sempitnya lapang respirasi dan penekanan toraks.
  3. Perubahan perfusi jaringan kardiopulmonal berhubungan dengan masalah pertukaran pada tingkat alveolar atau tingkat jaringan
  4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan (energi lebih banyak digunakan untuk usaha bernapas, sehingga metabolisme berlangsung lebih cepat).
  5. Intoleransi aktifitas  yang berhubungan dengan kelemahan fisik dan keletihan.
  6. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen, obstruksi alveoli
  1. Perencanaan Keperawatan
  • Tujuan                  : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk  keperluan tubuh.
  • Kriteria hasil         :
    • Klien tidak mengalami sesak napas.
    • Tanda-tanda vital dalam batas normal
    • Tidak ada tanda-tanda sianosis.
    • Pao2 dan paco2 dalam batas normal
    • Saturasi O2 dalam rentang normal

Intervensi dan Rasional :

1)        Pantau frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot aksesori, nafas bibir, tidakmampuan bicara/ berbincang.

Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan/atau kronisnya proses penyakit.

2)        Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. Dorong nafas perlahan atau nafas bibir sesuai kebutuhan atau toleransi individu.

Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispnea dan kerja nafas.

3)        Awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.

Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir/atau daun telinga). Keabu-abuan dan diagnosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia.

4)        Dorong mengeluarkan sputum; penghisapan bila diindikasikan.

Rasional : Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan nafas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif.

5)        Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan.

Rasional : Bunyi nafas mugkin redup karena aliran udara atau area konsolidasi. Adanya mengi mengindikasikan secret. Krekel basah menyebar menunjukkan cairan pada intertisial/dekompensasi jantung.

6)        Palpasi fremitus.

Rasional : Penurunan getaran fibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara terjebak.

7)        Awasi tingkat kesadaran/ status mental. Selidiki adanya perubahan.

Rasional : Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hypoxia, GDA memburuk disertai bingung/ somnolen menunjukkan disfungsi sersbral yang berhubungan dengan hipoksemia.

8)        Evaluasi tingkat toleransi aktifitas. Berikan lingkungan yang tenang dan kalem. Batasi aktifitas pasien atau dorong untuk tidur/ istirahat dikursi selama fase akut. Mungkinkan pasien melakukan aktifitas secara bertahap dan tingkatkan sesuai toleransi individu.

Rasional : Selama distress pernapasan berat/akut/refraktori pasien secara total tak mampu melakukan aktifitas sehari-hari karena hipoksemia dan dispnea. Istirahat diselingi aktifitas perawatan masih penting dari program pengobatan. Namun, program latihan ditujukan untuk meningkatkan ketahanan dan kekuatan tanpa menyebabkan dispnea berat, dan dapat meningkatkan rasa sehat.

9)        Awasi tanda vital dan irama jantung

Rasional : Tachycardia, disritmia, dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.

10)    Kolaborasi

a)        Awasi/gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri.

Rasional : Paco2 biasanya meningkat (bronchitis, enfisema) dan pao2 secara umum menurun, sehingga hipoksia terjadi dengan derajat lebih kecil atau lebih besar. Catatan: paco2 “normal” atau meningkat menandakan kegagalan pernapasan yang akan datang selama asmatik.

b)        Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien.

Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hypoxia. Catatan: emfisema kronis, mengatur pernapasan pasien ditentukan oleh kadar CO2 dan mungkin dieluarkan dengan peningkatan pao2 berlebihan.

c)        Berikan penekanan SSP (misal: ansietas, sedative, atau narkotik) dengan hati-hati.

Rasional : Digunakan untuk mengontrol ansietas/gelisah yang meningkatkan konsumsi oksigen/kebutuhan, eksaserbasi dispnea. Dipantau ketat karena dapat terjadi gagal nafas.

d)       Bantu instubasi, berikan/pertahankan ventilasi mekanik,dan pindahkan UPI sesuai instruksi pasien.

Rasional : Terjadinya/kegagalan nafas yang akan datang memerlukan penyelamatan hidup.

  1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan Hipoksia. 
  • Tujuan                  :
    • Memperbaiki atau mempertahankan pola pernapasan normal   
    • Pasien mencapai fungsi paru-paru yang maksimal.

Kriteria hasil         :

  • Pasien menunjukkan frekuensi pernapasan yang efektif.  
  • Pasien bebas dari dispnea, sianosis, atau tanda-tanda lain distress pernapasan 

Intervensi dan Rasional :

1)      Kaji jumlah/kedalaman pernafasan dan pergerakan dada

Rasional : evaluasi awal untuk melihat kemajuan dari hasil intervensi yang telah dilakukan.

2)      Auskultasi daerah paru, catat area yang menurun/tidak adanya aliran udara, adanya suara tambahan seperti crekels, wheezing.

Rasional : penurunan aliran udara timbul pada area yang konsolidasi dengan cairan. Suara nafas bronchial (normal di atas bronkus ) dapat juga. Ronki , krecels, weezing terdengar pada saat inspirasi dan atau ekspirasi sebagai respon dari akumulasi cairan.

3)      Berikan posisi fowler atau semi fowler 

Rasional : Memaksimalkan ekspansi paru, menurunkan kerja pernapasan, dan menurunkan resiko aspirasi

4)      Ajarkan teknik napas dalam dan atau pernapasan bibir atau pernapasan diafragmatik abdomen bila diindikasikan 

Rasional : Membantu meningkatkan difusi gas dan ekspansi jalan napas kecil, memberika pasien beberapa kontrol terhadap pernapasan, membantu menurunkan ansietas.

  1. Perubahan perfusi jaringan kardiopulmonal berhubungan dengan masalah pertukaran pada tingkat alveolar atau tingkat jaringan.

Tujuan : mempertahankan perfusi jaringan

Kriteria hasil :

Tanda vital normal, tidak ada tanda sianosis

Intervensi :

1)        Auskultasi HR dan ritme, serta catat suara jantung tambahan

2)        Observasi perubahan status mental

3)        Observasi warna dan temperatus kulit/membrane mukosa

4)        Evaluasi ekstremitas dari adanya kualitas nadi

5)        Kolaborasi :

  • Berikan cairan sesuai dengan indikasi
  • Monitor hasil diagnostic/ laboratorium, misalnya EKG, elektrolit, BUN
  • Berikan terapi sesuai dengan indikasi : heparin, agen trombolitik
  1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Penurunan nafsu makan (energi lebih banyak digunakan untuk usaha bernapas, sehingga metabolism berlangsung lebih cepat).
  • Tujuan                  : Nafsu makan membaik.
  • Kriteria hasil         :
    • Gizi untuk kebutuhan metabolik terpenuhi 
    • Massa tubuh dan berat badan klien berada dalam batas normal.

Intervensi dan Rasional :

1)      Beri motivasi pada klien untuk mengubah kebiasaan makan.

Rasional : Agar pasien mau memenuhi diet yang disarankan untuk kebutuhan nutrisi dalam metabolisme.

2)      Sajikan makanan untuk klien semenarik mungkin.

Rasional : Mengurangi anorexia pada pasien.

3)      Pantau nilai laboratorium, khususnya transferin, albumin, dan elektrolit.

Rasional : Untuk mengetahui perkembangan asupan gizi klien melalui sampel darah

4)      Timbang berat badan pasien pada interval yang tepat.

Rasional : Untuk mengetahui perkembangan klien dalam mempertahankan berat badan normal.

5)      Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein untuk klien.

Rasional : Untuk bisa lebih tepat memberikan diet kepada pasien sesuai zat gizi dan kalori yang dibutuhkan.

6)      Pertahankan kebersihan mulut yang baik

Rasional : Menambah nafsu makan dan membersihkan kuman-kuman yang ada dalam mulut, sehingga makanan yang klien makan akan terasa lebih nikmat 

  1. Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan demand oksigen
  • Tujuan                     : keseimbanagn antara suplai dan demand oksigen.
  • Kriteria hasil           : mentoleransi aktivitas yang biasa dilakukan dan di tunjukkan dengan daya tahan, menunjukkan penghematan energi.
  • Intervensi dan Rasional :

1)        Evaluasi respons klien terhadap aktivitas

Rasional : memberikan kemampuan/ kebutuhan klien dan memfasilitasi dalam pemilihan intervensi.

2)        Beri lingkungan yang nyaman dengan membatasi pengunjung. Anjurkan untuk menggunakan menejemen stress dan aktivitas diversional

Rasional : mengurangi stress dan stimulasi yang berlebihan, meningkatkan istirahat.

3)        Jelaskan pentingnya beristirahat pada rencana terapi dan perlunya keseimbangan antara aktivitas dengan istirahat

Rasional : bedrest akan memelihara selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic, memelihara energy untuk penyembuhan.

4)        Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman untuk beristirahat dan atau tidur.

Rasional : klien mungkin merasa nyaman dengan kepala dalam keadaan elevasi, tidur di kursi atau istirahat pada meja dengan bantuan bantal

5)        Ajarkan klien bagaimana meningkatkan rasa control dan mandiri dengan kondisi yang ada

6)        Ajarkan klien bagaimana menghadapi aktivitas menghindari kelelahan dan berikan periode istirahat tanpa gangguan di antara aktifitas

Rasional : Istirahat memungkinkan tubuh memperbaiki energy yang digunakan selama aktifitas

7)        Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai menu makanan pasien

Rasional :  Dengan ahli gizi,perawat dapat menentukan jenis-jenis makanan yang harus dikonsumsi untuk memaksimalkan pembentukan energy dalam tubuh pasien 

  1. Evaluasi
  1. Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk  keperluan tubuh.
  • Klien tidak mengalami sesak napas.
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal
  • Tidak ada tanda-tanda sianosis.
  • Pao2 dan paco2 dalam batas normal
  • Saturasi O2 dalam rentang normal
  1. Memperbaiki atau mempertahankan pola pernapasan normal   
  • Pasien mencapai fungsi paru-paru yang maksimal.
  • Pasien menunjukkan frekuensi pernapasan yang efektif.  
  • Pasien bebas dari dispnea, sianosis, atau tanda-tanda lain distress pernapasan 
  1. Nafsu makan membaik.
  • Gizi untuk kebutuhan metabolik terpenuhi 
  • Massa tubuh dan berat badan klien berada dalam batas normal.
  1. keseimbanagn antara suplai dan demand oksigen.

Mentoleransi aktivitas yang biasa dilakukan dan di tunjukkan dengan daya tahan, menunjukkan penghematan energi.

  1. Kode Etik Dan Legal Keperawatan
  1. Prinsip Etik

1)      Otonomi

Otonomi berarti kebebasan setiap individu untuk memilih rencana kehidupan dan cara bermoral mereka sendiri

Menghargai otonomi (autonomy) berarti komitmen terhadap klien  dalam mengambil keputusan tentang semua aspek pelayanan

Klien bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan mengenai kesehatan mereka

2)      Kebaikan ( beneficience )

Kebaikan (beneficence) adalah tindakan positif untuk membantu orang lain.

Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi

3)      Tidak mencederai ( non maleficience )

Rentang dari bahaya yang tidak berarti sampai menguntungkan orang lain dengan melakukan yang baik

Dalam kondisi klinis sering sulit menggambarkan garis antara bahaya yang tidak berarti dengan melakukan yang baik.

contoh : perawat yang memberikan imunisasi pada bayi memberi suatu derajat bahaya yaitu nyeri namun tindakan ini juga benificient karena tindakan ini mencegah bahaya serius penyakit anak

4)      Keadilan ( justice )

Menuntut perlakuan yang adil dan memberikan apa yang menjadi kebutuhan klien

5)      Kesetiaan ( fidelity)

Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang lain.

Contoh :  Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang perawat untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya kepada pasien.

6)      Kejujuran ( veracity )

Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran.

Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien

  1. Legal

            Dalam kasus cor pulmonal peran perawat sebagai advokat yaitu harus bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam hal inform concern atas tindakan– tindakan medis maupun tindakan – tindakan keperawatan yang akan dilakukan.

            Selain itu, perawat juga harus mampu mempertahankan dan melindungi hak – hak klien serta memastikan bahwa kebutuhan klien yang berhubungan dengan status kesehatannya terpenuhi.

  1. Pendidikan Kesehatan

 

                                          SATUAN ACARA PENYULUHAN                                         

(SAP)

Tema                                      : Penyakit Cor Pulmonal

Sub Tema                               : Perawatan Penyakit Cor Pulmonal

Sasaran                                  : Bp. X

Tempat                                   : Rumah Sakit  H

Hari/Tanggal                         : Jumat, 5 Desember 2012

Waktu                                                : 30 Menit

  1. A.  Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Bp. H dapat menjelaskan penyakit Cor Pulmonal.

  1. B.  Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Klien dapat:

  1. Menjelaskan pengertian penyakit Cor Pulmonal dengan benar
  2. Menyebutkan faktor penyebab yang dapat menimbulkan penyakit Cor Pulmonal
  3. Menyebutkan tanda/gejala dari penyakit Cor Pulmonal
  4. Menjelaskan penatalaksanaan penyakit Cor Pulmonal
  5. Menjelaskan patofisiologi penyakit Cor Pulmonal
    1. C.  Materi
      1. Pengertian penyakit Cor Pulmonal
      2. Faktor penyebab dari penyakit Cor Pulmonal
      3. Tanda/gejala penyakit Cor Pulmonal
      4. Penatalaksanaan penyakit Cor Pulmonal
      5. Patofisiologi penyakit Cor Pulmonal
  1. D.  Metode
    1. Ceramah
    2. Tanya jawab
  1. E.  Kegiatan Penyuluhan

No

Kegiatan

Penyuluh

Peserta

Waktu

1.

Pembukaan

  • Salam pembuka
  • Menyampaikan tujuan penyuluhan
  • Menjawab salam
  • Menyimak,

Mendengarkan, menjawab pertanyaan

5 Menit

2.

Kerja/ isi

  • Penjelasan pengertian, penyebab, gejala, penatalaksanaan dan patofisiologi penyakit Cor Pulmonal
  • Memberi kesempatan peserta untuk bertanya
  • Menjawab pertanyaan
  • Evaluasi
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian
  • Menanyakan hal-hal yang belum jelas
  • Memperhatikan jawaban dari penceramah
  • Menjawab pertanyaan

 15 menit

3.

Penutup

  • Menyimpulkan
  • Salam penutup
  • Mendengarkan
  • Menjawab salam
 

10 Menit

  1. F.   Media

Leaflet: Tentang penyakit Cor Pulmonal

  1. G.  Sumber/Referensi
  2. Doenges, E. Marilynn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3. EGC : Jakarta.
  3. FKUI. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1. FKUI : Jakarta.
  1. H.  Evaluasi

Formatif:

  1. Klien dapat menjelaskan pengertian penyakit Cor Pulmonal
  2. Klien mampu menjelaskan faktor penyebab dari penyakit Cor Pulmonal
  3. Klien dapat menjelaskan tanda/gejala penyakit Cor Pulmonal
  4. Klien  mampu menjelaskan penatalaksanaan penyakit Cor Pulmonal
  5. Klien mampu menjelaskan Patofisiologi penyakit Cor Pulmonal

Sumatif:

Klien dapat memahami penyakit Cor Pulmonal

Yogyakarta, 5 Desember 2012

Pembimbing                                                                                  Penyuluh

(Diah Pujiastuti, S. Kep., Ns)                                     (Ni Gusti Ayu Kadek D.)

  1. Jurnal

The association between obesity, mortality and filling pressures in pulmonary hypertension patients; the “obesity paradox”

Zafrir B, Adir Y, Shehadeh W, Shteinberg M, Salman N, Amir O.

B.    Source

Department of Cardiovascular Medicine, Lady Davis Carmel Medical Center, Haifa, Israel; The Heart Failure Center, Lin medical Center, Haifa, Israel. Electronic address: barakzmd @ gmail. com.

C.    Abstract

BACKGROUND:

The term “obesity paradox”, refers to lower mortality rates in obese patients, and is evident in various chronic cardiovascular disorders. There is however, only scarce data regarding the clinical implication of obesity and pulmonary hypertension (PH). Therefore, in the current study, we evaluated the possible prognostic implications of obesity in PH patients.

METHODS:

We assessed 105 consecutive PH patients for clinical and hemodynamic parameters, focusing on the possible association between Body Mass Index (BMI) and mortality. Follow-up period was 19 ± 13 months.

RESULTS:

Sixty-one patients (58%) had pre-capillary PH and 39 patients (37%) out-of-proportion post-capillary PH. During follow-up period, 30 patients (29%) died. Death was associated with reduced functional-class, inverse-relation with BMI, higher pulmonary artery and right atrial pressures, pulmonary vascular resistance and signs of right ventricular failure. In multivariate analysis, obesity (BMI ≥ 30 kg/m²), was the variable most significantly correlated with improved survival [H.R 0.2, 95% C.I 0.1-0.6; p = 0.004], even after adjustment for baseline characteristics. Obese and very-obese (BMI ≥ 35 kg/m²) patients had significantly less mortality rates during follow-up (12% and 8%, respectively) than non-obese patients (41%), p = 0.01. The tendency of survival benefit for the obese vs. non-obese patients was maintained both in the pre-capillary (10% vs. 46% mortality, p = 0.008) and disproportional post-capillary PH patients (11% vs. 40% mortality, p = 0.04).

CONCLUSIONS:

Obesity was significantly associated with lower mortality in both pre-capillary and disproportional post-capillary PH patients. It seems that in PH, similarly to other chronic clinical cardiovascular disease states, there may be a protective effect of obesity, compatible with the “obesity paradox”.

Daftar Pustaka

Irman, Sumantri. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika

Nuzurul . 2012. Asuhan Keperawatan Cor Pulmonal. Diakses Tanggal 29 November 2012 Jam 20.00 Wib Http://Nuzulul-Fkp09.Web.Unair.Ac.Id/Artikel_Detail-35530-Kep%20Respirasi-Askep%20Cor%20Pulmonal.Html

Pubmed. 2012. Jounal Cor Pulmonal. Diakses Tgl 2 Desember 2012 Jam 22.00 Wib Http://Www.Ncbi.Nlm.Nih.Gov/Pubmed/23199841

Syarifudin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Askep Jiwa

 Skizofrenia

1. Pengertian : Suatu bentuk psikos yang sering dijumpai di mana-mana sejak dahulu kala, namun sebab musabab patogenesisnya sangat kurang (W.E Meramis). Umumnya di tandai dengan penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi serta efek yang tidak wajar (marproriate) atau tumpul (blundeo).

2. Etiologi

Keturunan

Potensi untuk mendapatkan skizofrenia diperkirakan diturunkan (bukan penyakit itu sendiri) melalui gen yang resesif. Potensi ini kemungkinan kuat dan lemah tetapi selanjutnya tergantung pada lingkungan pada individu, apakah akan terjadi skizofrenia atau tidak.

Endokrine

Hal ini berhubungan dengan sering timbulnya skizofrenia pada usia pubertas, waktu kilmaks sterium, tetapi hal ini tidak dapat dibuktikan.

Metabolisme

Klien dengan skizofrenia sering tampak pucat, tidak sehat, nafsu makan berkurang dan berat badan berkurang sehingga ada yang menduga bahwa skizofrenia disebabkan gangguan metobolisme saat lahir.

Susunan saraf pusat

Adanya kelainan susunan saraf pusat yaitu pada diencepalon/korteks otak. Tetapi ini dapat dimasukkan dalam kelompok teori somatogenik yang mencari penyebab skizofrenia dalam kelainan badaniah.

Teori Adolf Meyer

Skizofrenia tidak disebabkan oleh suatu penyakit.

Teori Sigmund Freud.

Skizofrenia termasuk psikogenik yang terdapat kelainan ego, super ego dan kehilangan kapasitas untuk pemindahan.

Skizofrenia merupakan suatu sindrom yang disebabkan oleh bermacam-macam sebab antara lain.

1)      Pendidikan yang salah

2)      Keturunan

3)      Maladopsi

4)      Tekanan Jiwa

5)      Penyakit jiwa seperti luas arterosklerosis otak.

Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikosomatik dengan etiologi yang belum jelas.

3. Tanda dan Gejala

a. Tanda dan gejala primer

1). Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan sisi) kadang sebuah ide belum selesai dibicarakan sudah muncul ide lain, bloking prestasi, flights of ideas.

2).  Gangguan afeks dan emosi yang meliputi

a). Afeks dan emosi kadang kala, misalnya acuh tak acuh terhadap hal-hal yang penting bagi diri sendiri.

b).  Parathini adalah apa yang seharusnya menimbulkan senang dan gembira, pada penderita timbul rasa sedih dan marah.

c).  Parathimi adalah penderita seharusnya menimbulkan senang dan gembira akan tetapi ia menangis.

d).  Kadang-kadang emosi afeks serta ekspresinya tidak mempunyai kesamaan.

e).  Emosi berlainan sehingga terlihat seperti dibuat-buat.

f).   Kehilangan kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik.

g).  Akibat kepribadian yang terpecah-pecah maka timbul dua hal yang berlawanan yang terjadi secara bersamaan, contoh membenci dan mencintai.

3).  Gangguan kemauan

Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan, selalu memberikan alasan walaupun tidak dapat tepat dan jelas.

4).  Gejala psikomotor / gejala katatonik / gangguan perbuatan.

5).  Melakukan kegiatan beulang-ulang, kalalepsi yaitu : suatu posisi badan dipertahankan dalam waktu lama. Negativitas yaitu menentang/justru melakukan hal-hal yang berlawanan dengan apa yng disusun. Fleksibel bila suatu anggota badan digerakkan/dibengkokkan  terasa suatu tahanan.

b. Gejala sekunder

1).  Waham

Pada skizofrenia, waham seringkali tidak logis sama sekali dan sangat gila

2).  Halusinasi

Pada skizofrenia halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran

3).  Menarik diri

Sebagai contoh, penderita skizofrenia mengidentifikasi dirinya adalah suatu objek yang tidak ada artinya.

4. Jenis-jenis skizofrenia

Skizofrenia dibedakan menjadi bebarapa jenis, yaitu :

a).   Skizofrenia Simplek

b).   Skizofrenia Heberfrenik

c).   Skizofrenia Atatonik

d). Skizofrenia Paranoid

e).   Skizofrenia Residu

f).   Skizofrenia ak terinci / tak tergolongkan

5. Pengobatan

Pengobatan pada penderita skizofrenia harus secepat mungkin. Karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju kemunduran mental. Pengobatan dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu :

a. Farmakoterapis

Neleptika dengan dosis efektif rendah bermanfaat pada penderita denan skizofrenia yang menahun. Sedangkan dosis bermanfaat pada penderita skizofrenia dengan psikomotorik yang meningkat. Dengan fenotiozin ikut serta dalam kegiatan lingkungan dan terapi kerja. Sesudah gejala-gejala menghilang maka dosis dipertahankan selama beberapa bulan. Apabila serangan itu merupakan yang pertama kali. Jika sesudahnya berkurang maka setelah gejala mereda obat diberikan terus sampai satu hingga dua tahun.

b.Terapi elektro konkulsif (ECT)

Terapi ini dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita yang lebih banyak diberikan pada serangan berulang.

b.Terapi koma insulin

Hsail kerja baik untuk mendorong penderita bergaul dengan orang lain

c. Laborami Prefontal

Apabila terapi secara intensif tidak berhasil dan penderita sangat menganggu lingkungan maka dapat dilakukan cara ini

B.     Skizofrenia Tak Terinci

Skizofrenia tak terinci umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari persepsi serta efek yang tak wajar, kesadaran yang jernih dan kemauan yang intetelektual biasanya tetap terpilihara walaupun kemunduran kongitif tertentu dapat berkembang kemudian.

Klien dengan skizofrenia paling sedikit dua gejala dibawah ini yang terus ada secara jelas yaitu :

1). Halusinasi yang menetap yang disertai dengan waham yang mengembang.

2).  Arus pikir yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan

3).  Perilaku katatonik seperti gaduh  dan gelisah

4). Gejala-gejala seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan cenderung menarik diri.

C.      Halusinasi

1. Pengertian

Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah pola dari stimulus yang mendekati (yang diprakarsai secara internal ataau ekstrenal) disertai dengan satu pengukurang yang berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan berespon terhadap stimulus

(Townsend, MC (1998:156))

2. Jenis-jenis halusinasi

1)      Halusinasi pendengaran

Klien mendengar suara dan bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dan orang lain tidak mendengarnya.

2)      Halusinasi penglihatan

Klien melihat gambaran yang jelas atau samara-samar tanpa stimulus nyata dan orang lain tidak melihatnya.

3)      Halusinasi pengidu atau penciuman

Klien mencium bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulus dan orang lain tidak menciumnya.

4)      Halusinasi pengecapan

Klien merasakan akan sesuatu yang tidak nyata. Biasanya merasakan rasa makanan yang tidak enak.

5)      Halusinasi perubahan

Klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata.

3. Tanda-tanda halusinasi

1)      Berbicara sendiri

2)      Menarik diri dan menghindar dari orang lain

3)      Tidak dapat membedakan antara yang nyata dan tidak nyata

4)      Tidak dapat memusatkan konsentrasi atau perhatian

5)      Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain, lingkungan), takut.

6)      Ekspresi muka tegang dan mudah tersinggung

Stuart dan Sudden (1998) menuliskan bahwa halusinasi terdiri dari empat tahapan yaitu :

Tahapan I

a. Menerapkan ansietas tingkat sedang

b. Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan, memberi rasa aman

c. Tingkat kecemasan sedang, karakteristik :

1)      Mengalami ansietas, kesepian, merasa bersalah dan takut.

2)      Mencoba memusatkan perhatian

3)      Pikiran dan diri sensori dapat dikendalikan jika ansietasnya dapat diatasi

4)      Nonpsikotik

Tahapan II

a. Menyalahkan, ansietas tingkat berat

b. Secara umum, halusinasi menyebabkan rasa antipati

Karakteristik :

1)      Pengalaman sensori yang menakutkan

2)      Mulai kehilangan rasa kendali dan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang persepsikan.

3)      Menarik diri dari orang lain

4)      Persaan malu dan nonpsikotik

Tahapan III

a. Mengendalikan ansietas tingkat berat

b. Tingkat kecemasan berat

c.Pengalaman sensori tidak dapat ditolak lagi

Karakteristik :

1)      Membiarkan halusinasi menguasai dirinya

2)      Isi halusinasi dapat berupa permohonan

3)      Psikotik

Tahapan IV

a. Menguasai tingkat kecemasan panik

b. Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terakit dengan delusi

Karakteristik :

1)      Pengalaman sensori menakutkan jika mengikuti perintah

2)      Berlangsung dalam beberapa jam atau beberapa hari

3)      Psikotik

Tanda-tanda halusinasi

Gejala-gejala halusinasi menurut MC Forland dan MC Farlane (1993) adalah sebagai berikut :

1)      Perubahan sensori

Perubahan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan pengecapan, aktivitas motorik tidak terkoordinasi postur dan gerakan.

2)      Perubahan proses pikir

Disorientasi waktu, tempat, orang atau suasana, perubahan konseptual abstrak, pemikiran bizar, penurunan kemampuan pemecahan masalah, perubahan proses pikir.

3)      Perubahan emosi

Respon emosi berlebihan, emosi berubah dengan cepat, kecemasan, ketakutan, apatis, afek datar, marah, iritabilitas.

4)      Penurunan perhatian

Gelisah, bosan, kurang konsentrasi, melamun, merasa lelah.

5)      Perubahan pola perilaku

Penurunan respon terhadap stimulus, perubahan pola komunikasi, perubahan pola tidur.

  1. Prinsip tindakan keperawatan halusinasi

1)      Tetapkan hubungan saling percaya

2)      Kaji gejala halusinasi

3)      Fokus pada gejala klien, menjelaskan apa yang terjadi

4)      Identifikasi apakah sebelumnya minum obat atau minum alkohol.

5)      Jika klien bertanya nyatakan secara : “anda mendengar suara itu, tetapi saya, suster lain dan ….tidak mendengar suara itu.

6)      Bantu klien membandingkan halusinasi saat ini dan yang baru saja dialami.

7)      Dorong klien mengobservasi dan menjelaskan pikiran, perasaan dan tindakan yang berhubungan dengan halusinasi.

8)      Saranakan dan kuatkan pengguna hubungan interpersonal dalam memenuhi kebutuhan.

9)      Identifikasi gejala psikosis lainnya yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari klien.

  1. Masalah keperawatan yang mungkin muncul

1)      Harga diri rendah

2)      Kerusakan interaksi sosial = menarik diri

3)      Perubahan persepsi sensosi = halusinasi

4)      Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan

  1. Pohon masalah

Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan

Perubahan sensori persepsi = halusinasi

Kerusakan interaksi sosial = menarik diri

Gangguan konsep diri = harga diri rendah

 Diagnosa keperawatan

  1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, lingkungan berhubungan dengan halusinasi
  2. PSP : Halusinasi….berhubungan dengan menarik diri
  3. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar