Askep Jiwa

 Skizofrenia

1. Pengertian : Suatu bentuk psikos yang sering dijumpai di mana-mana sejak dahulu kala, namun sebab musabab patogenesisnya sangat kurang (W.E Meramis). Umumnya di tandai dengan penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi serta efek yang tidak wajar (marproriate) atau tumpul (blundeo).

2. Etiologi

Keturunan

Potensi untuk mendapatkan skizofrenia diperkirakan diturunkan (bukan penyakit itu sendiri) melalui gen yang resesif. Potensi ini kemungkinan kuat dan lemah tetapi selanjutnya tergantung pada lingkungan pada individu, apakah akan terjadi skizofrenia atau tidak.

Endokrine

Hal ini berhubungan dengan sering timbulnya skizofrenia pada usia pubertas, waktu kilmaks sterium, tetapi hal ini tidak dapat dibuktikan.

Metabolisme

Klien dengan skizofrenia sering tampak pucat, tidak sehat, nafsu makan berkurang dan berat badan berkurang sehingga ada yang menduga bahwa skizofrenia disebabkan gangguan metobolisme saat lahir.

Susunan saraf pusat

Adanya kelainan susunan saraf pusat yaitu pada diencepalon/korteks otak. Tetapi ini dapat dimasukkan dalam kelompok teori somatogenik yang mencari penyebab skizofrenia dalam kelainan badaniah.

Teori Adolf Meyer

Skizofrenia tidak disebabkan oleh suatu penyakit.

Teori Sigmund Freud.

Skizofrenia termasuk psikogenik yang terdapat kelainan ego, super ego dan kehilangan kapasitas untuk pemindahan.

Skizofrenia merupakan suatu sindrom yang disebabkan oleh bermacam-macam sebab antara lain.

1)      Pendidikan yang salah

2)      Keturunan

3)      Maladopsi

4)      Tekanan Jiwa

5)      Penyakit jiwa seperti luas arterosklerosis otak.

Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikosomatik dengan etiologi yang belum jelas.

3. Tanda dan Gejala

a. Tanda dan gejala primer

1). Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan sisi) kadang sebuah ide belum selesai dibicarakan sudah muncul ide lain, bloking prestasi, flights of ideas.

2).  Gangguan afeks dan emosi yang meliputi

a). Afeks dan emosi kadang kala, misalnya acuh tak acuh terhadap hal-hal yang penting bagi diri sendiri.

b).  Parathini adalah apa yang seharusnya menimbulkan senang dan gembira, pada penderita timbul rasa sedih dan marah.

c).  Parathimi adalah penderita seharusnya menimbulkan senang dan gembira akan tetapi ia menangis.

d).  Kadang-kadang emosi afeks serta ekspresinya tidak mempunyai kesamaan.

e).  Emosi berlainan sehingga terlihat seperti dibuat-buat.

f).   Kehilangan kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik.

g).  Akibat kepribadian yang terpecah-pecah maka timbul dua hal yang berlawanan yang terjadi secara bersamaan, contoh membenci dan mencintai.

3).  Gangguan kemauan

Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan, selalu memberikan alasan walaupun tidak dapat tepat dan jelas.

4).  Gejala psikomotor / gejala katatonik / gangguan perbuatan.

5).  Melakukan kegiatan beulang-ulang, kalalepsi yaitu : suatu posisi badan dipertahankan dalam waktu lama. Negativitas yaitu menentang/justru melakukan hal-hal yang berlawanan dengan apa yng disusun. Fleksibel bila suatu anggota badan digerakkan/dibengkokkan  terasa suatu tahanan.

b. Gejala sekunder

1).  Waham

Pada skizofrenia, waham seringkali tidak logis sama sekali dan sangat gila

2).  Halusinasi

Pada skizofrenia halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran

3).  Menarik diri

Sebagai contoh, penderita skizofrenia mengidentifikasi dirinya adalah suatu objek yang tidak ada artinya.

4. Jenis-jenis skizofrenia

Skizofrenia dibedakan menjadi bebarapa jenis, yaitu :

a).   Skizofrenia Simplek

b).   Skizofrenia Heberfrenik

c).   Skizofrenia Atatonik

d). Skizofrenia Paranoid

e).   Skizofrenia Residu

f).   Skizofrenia ak terinci / tak tergolongkan

5. Pengobatan

Pengobatan pada penderita skizofrenia harus secepat mungkin. Karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju kemunduran mental. Pengobatan dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu :

a. Farmakoterapis

Neleptika dengan dosis efektif rendah bermanfaat pada penderita denan skizofrenia yang menahun. Sedangkan dosis bermanfaat pada penderita skizofrenia dengan psikomotorik yang meningkat. Dengan fenotiozin ikut serta dalam kegiatan lingkungan dan terapi kerja. Sesudah gejala-gejala menghilang maka dosis dipertahankan selama beberapa bulan. Apabila serangan itu merupakan yang pertama kali. Jika sesudahnya berkurang maka setelah gejala mereda obat diberikan terus sampai satu hingga dua tahun.

b.Terapi elektro konkulsif (ECT)

Terapi ini dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita yang lebih banyak diberikan pada serangan berulang.

b.Terapi koma insulin

Hsail kerja baik untuk mendorong penderita bergaul dengan orang lain

c. Laborami Prefontal

Apabila terapi secara intensif tidak berhasil dan penderita sangat menganggu lingkungan maka dapat dilakukan cara ini

B.     Skizofrenia Tak Terinci

Skizofrenia tak terinci umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari persepsi serta efek yang tak wajar, kesadaran yang jernih dan kemauan yang intetelektual biasanya tetap terpilihara walaupun kemunduran kongitif tertentu dapat berkembang kemudian.

Klien dengan skizofrenia paling sedikit dua gejala dibawah ini yang terus ada secara jelas yaitu :

1). Halusinasi yang menetap yang disertai dengan waham yang mengembang.

2).  Arus pikir yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan

3).  Perilaku katatonik seperti gaduh  dan gelisah

4). Gejala-gejala seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan cenderung menarik diri.

C.      Halusinasi

1. Pengertian

Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah pola dari stimulus yang mendekati (yang diprakarsai secara internal ataau ekstrenal) disertai dengan satu pengukurang yang berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan berespon terhadap stimulus

(Townsend, MC (1998:156))

2. Jenis-jenis halusinasi

1)      Halusinasi pendengaran

Klien mendengar suara dan bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dan orang lain tidak mendengarnya.

2)      Halusinasi penglihatan

Klien melihat gambaran yang jelas atau samara-samar tanpa stimulus nyata dan orang lain tidak melihatnya.

3)      Halusinasi pengidu atau penciuman

Klien mencium bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulus dan orang lain tidak menciumnya.

4)      Halusinasi pengecapan

Klien merasakan akan sesuatu yang tidak nyata. Biasanya merasakan rasa makanan yang tidak enak.

5)      Halusinasi perubahan

Klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata.

3. Tanda-tanda halusinasi

1)      Berbicara sendiri

2)      Menarik diri dan menghindar dari orang lain

3)      Tidak dapat membedakan antara yang nyata dan tidak nyata

4)      Tidak dapat memusatkan konsentrasi atau perhatian

5)      Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain, lingkungan), takut.

6)      Ekspresi muka tegang dan mudah tersinggung

Stuart dan Sudden (1998) menuliskan bahwa halusinasi terdiri dari empat tahapan yaitu :

Tahapan I

a. Menerapkan ansietas tingkat sedang

b. Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan, memberi rasa aman

c. Tingkat kecemasan sedang, karakteristik :

1)      Mengalami ansietas, kesepian, merasa bersalah dan takut.

2)      Mencoba memusatkan perhatian

3)      Pikiran dan diri sensori dapat dikendalikan jika ansietasnya dapat diatasi

4)      Nonpsikotik

Tahapan II

a. Menyalahkan, ansietas tingkat berat

b. Secara umum, halusinasi menyebabkan rasa antipati

Karakteristik :

1)      Pengalaman sensori yang menakutkan

2)      Mulai kehilangan rasa kendali dan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang persepsikan.

3)      Menarik diri dari orang lain

4)      Persaan malu dan nonpsikotik

Tahapan III

a. Mengendalikan ansietas tingkat berat

b. Tingkat kecemasan berat

c.Pengalaman sensori tidak dapat ditolak lagi

Karakteristik :

1)      Membiarkan halusinasi menguasai dirinya

2)      Isi halusinasi dapat berupa permohonan

3)      Psikotik

Tahapan IV

a. Menguasai tingkat kecemasan panik

b. Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terakit dengan delusi

Karakteristik :

1)      Pengalaman sensori menakutkan jika mengikuti perintah

2)      Berlangsung dalam beberapa jam atau beberapa hari

3)      Psikotik

Tanda-tanda halusinasi

Gejala-gejala halusinasi menurut MC Forland dan MC Farlane (1993) adalah sebagai berikut :

1)      Perubahan sensori

Perubahan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan pengecapan, aktivitas motorik tidak terkoordinasi postur dan gerakan.

2)      Perubahan proses pikir

Disorientasi waktu, tempat, orang atau suasana, perubahan konseptual abstrak, pemikiran bizar, penurunan kemampuan pemecahan masalah, perubahan proses pikir.

3)      Perubahan emosi

Respon emosi berlebihan, emosi berubah dengan cepat, kecemasan, ketakutan, apatis, afek datar, marah, iritabilitas.

4)      Penurunan perhatian

Gelisah, bosan, kurang konsentrasi, melamun, merasa lelah.

5)      Perubahan pola perilaku

Penurunan respon terhadap stimulus, perubahan pola komunikasi, perubahan pola tidur.

  1. Prinsip tindakan keperawatan halusinasi

1)      Tetapkan hubungan saling percaya

2)      Kaji gejala halusinasi

3)      Fokus pada gejala klien, menjelaskan apa yang terjadi

4)      Identifikasi apakah sebelumnya minum obat atau minum alkohol.

5)      Jika klien bertanya nyatakan secara : “anda mendengar suara itu, tetapi saya, suster lain dan ….tidak mendengar suara itu.

6)      Bantu klien membandingkan halusinasi saat ini dan yang baru saja dialami.

7)      Dorong klien mengobservasi dan menjelaskan pikiran, perasaan dan tindakan yang berhubungan dengan halusinasi.

8)      Saranakan dan kuatkan pengguna hubungan interpersonal dalam memenuhi kebutuhan.

9)      Identifikasi gejala psikosis lainnya yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari klien.

  1. Masalah keperawatan yang mungkin muncul

1)      Harga diri rendah

2)      Kerusakan interaksi sosial = menarik diri

3)      Perubahan persepsi sensosi = halusinasi

4)      Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan

  1. Pohon masalah

Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan

Perubahan sensori persepsi = halusinasi

Kerusakan interaksi sosial = menarik diri

Gangguan konsep diri = harga diri rendah

 Diagnosa keperawatan

  1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, lingkungan berhubungan dengan halusinasi
  2. PSP : Halusinasi….berhubungan dengan menarik diri
  3. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

Tentang gustiayuderly

Mahasiswa STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta Hobby main game
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s