Asuhan Keperawatan

ASMA

A. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
Asma adalah penyakit paru yang didalamnya terdapat obstruksi jalan nafas, inflamasi jalan nafas, dan jalan nafas yang hiperresponsif atau spasme otot polos bronchial (Betz, 2002).
Asma bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkiolus dan menyebabkan obstruksi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus (Sylvia, 2004).
Asma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara reversibel yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi, dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap berbagai stimulan (Suriadi, 2001).
2. Etiologi
Faktor ektrinsik : reaksi antigen atibodi karena inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang).
Faktor instrinsik : infeksi pada influenza virus, pneumonia, mycoplasmal, kemudian dari fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan : kimia. Polusi udara (CO, asap rokok, parfum). Emosional : takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus (Suriadi, 2001).
3. Anatomi dan fisiologi

Anatomi dan fisiologi sistem pernafasan menurut Saifudin (2008) antara lain :
a. Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam lubang hidung. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum hidung.
b. Rongga hidung dilapisi selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan tersambung dengan lapisan faring dan dengan selaput lendir semua sinus yang mempunyai lubang masuk kedalam rongga hidung.
c. Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan esofagus pada ketinggian tulang rawan krikoid.
d. Laring terletak di depan bagian terendah faring yang memisahkannya dari kolumna vertebra, berjalan dari faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakhea di bawahnya.
e. Trakhea atau batang tenggorokan kira-kira sembilan sentimeter panjangnnya. Kedua bronkhus yang terbentuk dari belahan dua trakhea pada ketinggian kira-kira vertebra torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trakhea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama.
f. Paru – paru adalah salah satu organ sistem pernapasan yang berada di dalam kantong yang dibentuk oleh pleura parietalis dan useralis. Kedua paru – paru sangat lunak, elastis dan berada dalam rongga thorak, sifatnya ringan terapung di dalam air.
Masing – masing paru – paru mempunyai apeks yang tumpul dan menjorok ke atas, masuk ke leher kira-kira 2,5 cm diatas klavikula, fasies kostalis yang konveks berhubungan dengan dinding dada pada fasies mediastinal yang konkaf membentuk perikardium. Sekitar pertengahan permukaan kiri terdapat hilus pulmonalis suatu lekukan dimana bronkus pembuluh darah dan saraf masuk paru – paru membentuk radik pulmonalis
Apek pulmo berbentuk bundar menonjol ke arah dasar yang lebar melewati apertura torasis superior 2,5 – 4 cm diatas ujung sternal iga pertama.
Basis pulmo bagian yang berada diatas permukaan cembung diafragma, karena kubah difragma lebih menonjol ke atas pada bagian kanan dari paru kiri maka basis paru kanan lebih kontak dari paru kiri.
Insisura atau fisura dengan adanya fisura tekik yang dalam pada permukaan, paru-paru dapat dibagi menjadi beberapa lobus. Letak insisura dan lobus diperukan dala penentuan diagnosa
Paru-paru kiri pada paru-paru kiri terdapat suatu insisura yaitu insisura obliqua. Insisura ini membagi paru-paru kiri atas menjadi dua lobus, yaitu:
1) Lobus Superior, bagian yang terletak di atas dan di depan insisura.
2) Lobus Inferior, bagian paru-paru yang terletak di belakang dan di bawah insisura.
Paru-paru kiri pada paru-paru kanan terdapat dua insisura, yaitu insisura obliqua dan insisura interlobalis sekunder.
a. Insisura Obliqua (Interlobalis primer), mulai di daerah terus ke atas dan ke belakang sampai hilus setinggi vertebrata torakalis ke-4 terus ke bawah dan ke depan searah iga ke-6 sampai linea aksilaris media ke ruangan intercostal ke-6, memotong margo inferior setinggi artikularis media iga ke-6 kembali ke hilus.
b. Insisura Interlobalis Sekunder, mulai dari insisura obliqua pada aksilaris media berjalan horizontal memotong margo anterior pada artikulatio kosto kondralis ke-4 terus ke hilus. Insisura obiqua memisahkan lobus inferior dari lobus medius dan lobus posterior. Insisura horizontal memisahkan lobus medius dari lobus superior.
Radiks Pulmonalis susunan dalam jaringan penyambung media spinalis dan dikelilingi oleh garis pleura, susunan alat utma bronkus, arteri pulmonalis dan vena pulmonalis segmen pulmonar.
Dari bronkus lobalis bercabang menjadi bronkus segmentarum. Segmen bronkopulmonari adalah daerah yang diurus oleh cabang-cabang bronkus segmentarum, mendapat darah dari arteri yang berjalan bersama bronkus segmentarum yang berdekatan dan darah vena durus oleh vena-vena yang terletak intersegmental.

4. Patofisiologi
Asma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain. Adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul (immunoglobulin E atau IgE) dengan adanya allergen, IgE dimunculkan pada reseptor sel mast yang menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma. Respon asma terjadi dalam tiga tahap : tahap pertama immediate yang ditandai dengan bronkokonstriksi (1-2 jam), tahap delayed dimana berkonstriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus- menerus 2-5 jam lebih lama : tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan. Asma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, udara dingin.
Selama serangan asma, bronkiolus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mokus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distress pernafasan (Suriadi, 2001).

Menurut Sylvia (2004) Pathway asma sebagai berikut :

Alergen

Ditangkap oleh makrofag APC (Antigen Presenting Cell) yang ada pada leukosit

Menempel pada reseptor dinding sel mast

Orang yang dianggap disensitisasi/rentan terhadap alergen

Terpapar alergen yang sama oleh IgE (Mastosit & Basofil)

Terjadi degranulasi sel

Sel mengeluarkan mediotar
(Histamin, Eosinofil, Tripsin & Kinin)

Peningkatan Permeabilitas kapiler

Cairan menumpuk di paru

Edema
↓ Peningkatan produksi mukosa

Pola nafas tak efektif

Gangguan aliran udara ke alveoli

Gangguan pertukaran gas

5. Tanda dan gejala
Menurut Betz (2002) tanda dan gejala asma sebagai berikut :
a. Sesak napas/sukar bernapas yang diikuti dengan suara “mengi” (bunyi yang meniup sewaktu mengeluarkan udara/napas)
b. Rasa berat dan kejang pada dada sehingga napas jadi terengah-engah
c. Biasanya disertai batuk dengan dahak yang kental dan lengket
d. Perasaan menjadi gelisah dan cemas
e. Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada, dan stridor.
f. Batuk kering (tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan nafas sempit.
g. Takikardia, pernafasan sulit
Disebabkan karena peningkatan kerja pernafasan, keletihan dan peningkatan konsumsi oksigen .
h. Sputum kental dan lengket warna hijau dan kuning, karena adanya peningkatan produksi sputum, dehidrasi dan demam yang dihubungkan dengan infeksi.
i. Spasme bronkus
j. Karena adanya inflamasi.
k. Tachypnea, orthopnea
l. Gelisah
m. Diaphorosis
n. Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan
o. Tidak toleran terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan bahkan bicara.
p. Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran
q. Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior ( barrel chest )
r. Serangan yang tiba-tiba atau berangsur-angsur
6. Komplikasi
Menurut Betz (2002) komplikasi asma sebagai berikut :
a. Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas.
b. Chronic persistent bronchitis
Bronkitis kronik didefinisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam satu tahun selama 2 tahun berturut-turut.
c. Pneumonia
Proses inflamatori parenkin paru yang umumnya disebabkan oleh agens infeksius.
d. Emfisema :
Emfisema paru didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli.
e. Hipoksia : kekurangan oksigen dalam jaringan
f. Penyakit asma yang berat dan tidak terkendali akan menyebabkan hipoksia kronis / intermitten yang menimbulkan pengaruh pada penderita.
g. Retensi karbondioksida.
h. Pada serangan asma yang berat akan terjadi retensi karbondioksida dan kerja pernapasan menjadi begitu meningkat sehingga timbul penumpukan asam laktat .
i. Serangan asma yang akut
7. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Suriadi (2001) komplikasi asma sebagai berikut :
a. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
b. Foto rontgen
c. Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volum, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum.
d. Pemeriksaan alergi ( Radioallergosorbent Test; RAST )
e. Pulse oximetry
f. Analisa gas darah
8. Penatalaksanaan medik
Penatalaksanaan medis ditujukan pada pencegahan eksaserbasi asma dengan menghindari pemicu asma dan dengan menurunkan obstruksi jalan nafas, inflamasi, dan reaktifitas dengan obat. Agonis adrenergik B yang bekerja sistemik, seperti epinefrin HCL (1:1000) dan terbutalin, diberi secara subkutan, meskipun begitu lebih disukai agonis adrenergik B yang diinhalasi, seperti albuterol yang diberikan bersama oksigen. Kortikosteroid intravena, seperti Solu-Medrol atau Solu-cortef dapat ditambah untuk mengurangi edema mukosa. Aminofilin atau teofilin terkadang diberikan sebagai bronkodilator tambahan (Betz, 2002).
9. Pencegahan
Pencegahan asma menurut Bruner dan Suddarth (2002) yaitu asma kambuhan harus menjalani pemeriksaan mengidentifikasi substansi yang mencetuskan terjadinya serangan. Penyebab tersebut antara lain : bantal, kasur, pakaian jenis tertentu, hewan peliharaan, detergen, sabun, makanan tertentu, jamur dan serbuk sari. Jika serangan berkaitan dengan musim, maka serbuk sari dapat menjadi dugaan kuat. Upaya harus dibuat untuk menghindari agen penyebab kapan saja memungkinkan.

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Pengakajian adalah tahap awal dan dasar dalam poses keperawatan. Pengakajian adalah tahap yang paling menentukan bagi tahap berikutnya. Kemampuan mengidentifikasi masalah keperawatan yang terjadi pada tahap ini akan menentukan diagnosa keperawatan.
Kegiatan dalam pengkajian adalah pengumpulan data. Pengumpulan data adalah kegiatan untuk menghimpun informasi tentang status kesehatan klien (Rohman, 2010).
Menurut Doengoes (2002) pengkajian keperawatan pada anak dengan asma meliputi :
a. Riwayat asma atau alergi dan serangan asma yang lalu, alergi dan masalah pernafasan.
b. Fase akut : tanda-tanda vital, usaha nafas dan pernafasan, retraksi dada, penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, pulse oximetry. Suara nafas : wheezing, menurunnya suara nafas. Kaji status neurologi, perubahan kesadaran, meningkatnya fatigue, perubahan tingkah laku., dan kaji status hidrasi.
c. Riwayat psikososial
Faktor pencetus: stress, latihan, kebiasaan dan rutinitas, perawatan sebelumnya.

d. Aktivitas / Istirahat
Gejala : kelelahan umum dan kelemahan, napas pendek karena kerja, kesulitan tidur pada malam atau demam malam hari, menggigil dan /atau berkeringat, mimpi buruk
Tanda : Takikardia, Takipnea / dispnea pada kerja, kelelahan otot, nyeri dan sesak (tahap lanjut)
e. Integritas Ego
Gejala : adanya / faktor stres lama, masalah keuangan, rumah perasaan tak berdaya / tak ada harapan, populasi budaya / etnik.
Tanda : menyangkal, ansietas, ketakutan, mudah terangsang
f. Makanan / Cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, tak dapat mencerna, penurunan berat badan
Tanda : Turgor kulit buruk, keringat / kulit bersisik, kehilangan otot / hilang lemak subkutan
g. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah
h. Pernapasan
Gejala : Batuk produktif atau tidak produktif, napas pendek, riwayat alergi pada pajanan tertentu
Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleura)
i. Keamanan
Gejala : Adanya kondisi penekanan imun contoh: AIDS, Kanker
Tes HIV Positif
Tanda : Demam rendah atau sakit panas akut
j. Interaksi Sosial
Gejala : Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab / perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran
k. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga asma bronchial, ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk, gagal untuk membaik / kambuhnya asma bronchial, tidak berpatisipasi dalam terapi.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan pernyataan yang menggambarkan respons manusia dari individu atau kelompok ketika perawat secara legal mengidentifikasi dan dapat memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan atau untuk mengurangi, menyingkirkan, atau mencegah perubahan (Rohman, 2010).
Pernyataan diagnosis keperawatan menurut Gordon
P : Problem/masalah, menjelaskan status kesehatan dengan singkat dan jelas.
E : Etiologi/penyebab, penyebab masalah yang meliputi faktor penunjang dan faktor resiko yang terjadi dari :
1) Patofisiologi yaitu semua proses penyakit yang dapat menimbulkan tanda/gejala yang menjadi penyebab timbulnya masalah keperawatan.
2) Situasional yaitu situasi personal (berhubungan dengan klien sebagai individu), dan environment (berhubungan dengan lingkungan yang berinteraksi dengan klien).
3) Medicatin/treatment yaitu pengobatan atau tindakan yang diberikan yang memungkinkan terjadinya efek yang tidak menyenangkan yang dapat diantisipasi atau dicegah dengan tindakan keperawatan.
4) Maturasional yaitu tingkat kematangan atau kedewasaan klien, dalam hal berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan.
S : Symtom/tanda yaitu definisi karakteristik tentang data subyektif atau obyektif sebagai pendukung diagnosis aktual.
Menurut Rohman (2010) tipe diagnosis keperawatan sebagai berikut :
1) Diagnosis keperawatan aktual
Adalah diagnosis yang menjelaskan masalah yang nyata terjadi saat ini. Harus ada unsur PES. Simtom harus memenuhi kriteria mayor (80-100%) dan sebagai kriteri minor.
2) Diagnosis keperawatan risiko
Diagnosis keperawatan risiko adalah keputusan klinis bahwa individu, keluarga/komunitas sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding yang lain pada situasi yang sam atau hampir sama.
3) Diagnosis keperawatan kemungkinan
Diagnosis keperawatan kemungkinan adalah pernyataan tentang masalah yang diduga akan terjadi, masih memerlukan data tambahan.
4) Diagnosis keperawatan sindrom
Diagnosis yang terdiri dari kelompok diagnosis keperawatan aktual/risiko yang diperkirakan akan muncul karena suatu kejadian tertentu.
5) Diagnosis keperawatan sejahtera
Keputusan klinis yang divalidasi oleh ungkapan subyektif yang positif dimana pola fungsi dalam keadaan efektif.
(Rohman, 2010).
Penyusunan diagnosa keperawatan dilakukan setelah data didapatkan, dianalisa, kemudian dikelompokkan dan difokuskan sesuai dengan masalah yang timbul. Menurut Carpenito (2006) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien asma adalah :
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkospasme.
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi berlebihan dan kental.
c. Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia sekunder dipnea, kelemahan.
d. Kurang pengetahuan mengenai kondisi berhubungan dengan kurang informasi/tidak mengenal sumber informasi.
e. Ansietas berhubungan dengan kesukaran bernafas
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas dan keletihan.
3. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan menurut Rohman (2010) adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, mengatasi masalah-masalah yang telah diidentifikasi dalam diagnosis keperawatan. Desain perencanaan menggambarkan sejauhmana perawat mampu menetapkan cara menyelesaikan masalah dengan efektif dan efesien.
Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan itu adalah :
a. Menentukan prioritas masalah keperawatan
b. Menetapkan tujuan dan kriteria hasil
c. Merumuskan rencana tindakan keperawatan
d. Menetapkan rasional rencana tindakan keperawatan
Adapun beberapa tehnik membuat skala prioritas menurut Rohman (2010) yaitu :
a. Standar V, standar asuhan keperawatan
Dalam standar V asuhan keperawatan prioritas dititikberatkan pada masalah yang mengancam kehidupan. Skala prioritasnya ditentukan dengan konsep :
1) Prioritas pertama masalah mengancam kehidupan
2) Prioritas pertama masalah mengancam kesehatan
3) Prioritas pertama masalah yang mempengaruhi perilaku manusia
b. Depkes RI, 1992, pedoman asuhan keperawatan
Pedoman asuhan keperawatan menetapkan bahwa :
1) Proritas pertama diberikan pada masalah aktual
2) Prioritas kedua pada masalah potensial
c. Hierarki Maslow
Maslow telah membuat 5 hierarki kebutuhan dasar manusia, dimana hierarki yang menjadi prioritas pertama terletak pada pemenuhan kebutuhan dasar yang bersifat fisiologis. Kebutuhan ini meliputi : oksigenasi, cairan dan elektrolit, eliminasi, nutrisi, istirahat tidur, aktivitas dan mobilitas, seks, dan lain-lain. Prioritas kedua rasa aman nyaman, dilanjutkan dengan cinta dan kasih sayang pada prioritas ketiga. Prioritas berikutnya kebutuhan harga diri dan aktualisasi.
d. Pendekatan Body sistem
Pendekatan ini menitikberatkan pada fungsi sistem tubuh, dimana fungsi pernafasan merupakan proritas pertama, karena gangguan pada fungsi ini dapat mengancam jiwa klien. Fungsi pernafasan ini terdiri dari jalan nafas dan pernafasan. Prioritas terakhir pada sistem kulit, selaput lendir, dan tulang.

Daftar Pustaka
Betz, Cecily L. (2002). Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC
Brunner dan Sudarth . (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol-2 . Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn. ( 2002) . Rencana Asuhan Keperawatan . Jakarta : EGC
Saifudin. (2008). Anatomi dan fisiologi. Jakarta : EGC
Suriadi. (2001). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI
Sylvia, Price. (2002). Patofisiologi. Jakarta : EGC

Tentang gustiayuderly

Mahasiswa STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta Hobby main game
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s