MELANOMA MALIGNA

LAPORAN KASUS KELOMPOK

SISTEM INTEGUMEN

MELANOMA MALIGNA

DISUSUN OLEH :

  1. Fredrika Cory S           (1203015)
  2. Ni Gusti Ayu Kadek    (1203026)
  3. Paula Dianti M             (1203028)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA

TAHUN AKADEMIK

2013

Melanoma Maligna

  1. Konsep Medis
  2. Pengertian

Kanker kulit adalah penyakit dimana kulit kehilangan kemampuannya untuk generasi dan tumbuh secara normal. Sel-sel kulit yang sehat secara normal dapat membela diri secara teratur untuk menggantikan sel-sel kulit mati dan menumbuhkan.

Melanoma maligna merupakan sejenis neoplasia yang malignan berasal daripada sel yang boleh membentuk melanin di mana-mana bagian kulit ataupun mata. Juga berasal dari membran mucus di kawasan kemaluan, lubur, rongga mulut. Penyakit ini biasanya berlaku pada dewasa secara de novo ataupun nevus berpigmen, lentigo maligna.

Definisi lain dari melanoma maligna yaitu tumor ganas kulit yang berasal dari system melanositik kulit (melanosit) dengan gambaran berupa lesi kehitam-hitaman pada kulit. Biasanya menyebabkan metastasis yang luas dalam waktu singkat, tidak saja melalui aliran limfe ke kelenjar regional, tetapi juga menyebar melalui aliran darah ke alat-alat dalam, serta dapat menyebabkan kematian. Ini adalah jenis penyakit kanker kulit yang paling ganas dan berpotensi mematikan.

  1. Anatomi Fisiologi
  1. Lapisan kulit

1)      Epidermis

a)      Stratum korneum

  • Berlapis lapis sel tanduk (keratin)
  • Sel gepeng kering tak berinti
  • Makin keluar makin tipis dan terlepas untuk digantikan lapisan dibawahnya
  • Hampir tidak mengandung air dan sangat efektif untuk pencegahan penguapan air
  • Protoplasmanya berubah menjadi keratin.

b)      Stratum lusidum

  • Langsung dibawah stratum korneum
  • Protoplasma berubah menjadi protein yang disebut eleidin.
  • Lapisan terdiri dari sel yang gepeng dan bening
  • Sel tak keliahatan karena bening sehingga membentuk satu kesatuan lapisan yang bening
  • Lihat pada telapak tangan dan kaki

c)      Stratum granulosum (keratohialin)

  • Terdiri 2 – 3 lapisan sel yang agak gepeng dengan inti ditengah
  • citoplasmanya berisi butiran (granula) KERATOHIALIN.
  • Lapisan ini berfungsi untuk menghalangi benda asing, kuman, dan bahan kimia masuk ke dalam tubuh.
  • Diniding mucosa tidak mempunyai lapisan ini

d)     Stratum spinosum

  • Terdiri dari banyak lapisam sel yang berbentuk kubus dan poligonal yg besarnya berbeda-beda karena proses mitosis, inti ditengah.
  • Diantara sel terdpt intreceluler bridges, brlekatan membentuk nodulus Bizzozero
  • Sitoplasmanya berisi berkas serat yang terpaut pada dermosom (jembatan sel)
  • Masing sel terikat kuat melalui serat-serat
  • Bentuknya tebal dan kuat terdapat pada bagian tubuh yang sering bersentuhan atau menahan tekanan seperti tumit, telapak kaki.
  • Berfungsi untuk menahan gesekan dan tekanan

e)      Stratum basale

  • Terdiri dr sel berbentuk kubus (kolumner)
  • Tersusun vertikal pd berbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar.
  • Merupakan lapisan epidermis yg paling bawah yang reproduktif
  • Terdiri 2 lapis :

–        Sel dg protoplasma basofilik inti lonjong, dan besar.

–        Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clearcell, berwarna muda, dg cytoplasma basofilik, berinti gelap dan mengandung PIGMEN (melanosomes).

2)      Dermis

Lapisan dermis ini menyatu dengan lapisan subkutis (hipodermis) dengan ketebalan  0,5 – 3 mm. Lapisan dermis memiliki sifat ulet, elastis, berguna untuk melindungi bagian yang lebih dalam . Terdiri dari serat-serat kalogen, serabut-serabut elastis , bersama pembuluh darah dan pembuluh getah bening anyaman yang memberi perdarahan untuk kulit . Lapisan dermis terdiri dari :

a)      Dermis pars papilaris

  • Pars papilaris mengandung lekuk-lekuk dan membentuk lapisan spongiosum (bunga karang)
  • Berperan dalam peremajaan dan penggandaan unsur kulit.
  • Menonjol kearah epidermis.
  • Berisi serabut syaraf dan pembuluh darah.

b)      Dermis pars retikularis

  • Pars retikularis mengandung jaringan ikat rapat.
  • Unsur sel dalam dermis adalah fibroblas, makrofag dan sel lemak berkelompok dan jaringan berpigmen
  • Terdapat juga sel otot musculus erektor fili.
  • Menonjol kearah subcutan, terdiri serabut2 penunjang : kalogen,elastin dan retikulin.

3)      Subkutis

a)      Merupakan jaringan ikat longgar dengan komponen serat longgar, elastik dan jaringan lemak .

b)      Terdiri dari sel2 lemak yang besar dan bulat dengan inti dipinggir.

c)       Mendukung mobilitas kulit diatasnya dengan adanya bantal lemak penikulus adiposa.

d)     Berfungsi sebagai cadangan makanan.

e)      Terdapat arteri, vena, dan anyaman syaraf, dan kelenjar getah bening

  1. Adneks kulit

1)      Kelenjar

Glandula sudorifera (kelenjar keringat)

a)      Kelenjar ekrin

  • Terbentuksempurna pd 28 mgg kehamilan ttp baru berfungsi 40 mgg setelah lahir.
  • Berbentuk spiral dan bermuara langsung dipermukaan kulit.
  • Terdapat diseluruh permukaan kulit, terbanyak di telapak tangan & kaki, dahi dan aksila.
  • Sekresi dipengaruhi oleh saraf kolinergik, suhu dan stress emosional.

b)      Kelenjar apokrin

  • Terdpt di aksila, pubis, areola mame, labia minora, dan saluran telinga luar.
  • Berfungsi mulai pada masa pubertas.
  • Terletak lebih dalam dan lebih besar dari kelenjar ekrin dan sekretnya lebih kental.
  • Mengandung air, eletrolit, asam laktatdan glukosa. PH sekitar 4 -6.8

Kelenjar sebasea (kelenjar palit)

  • Terdpt diseluruh permukaan kulit manusia kecuali telapak tangan dan kaki.
  • Termasuk kelenjar holokrin karena tidak berlumen.
  • Sekret merupakan dekomposisi dari sel2 kelenjar.
  • Terletak disamping akar rambut (folikel rambut)
  • Bermuara di folikel akar rambut.

2)      Kuku

Kuku merupakan terminal lapisan tanduk yg menebal. Kuku tumbuh 1mm perminggu. Bagian-bagian kuku terdiri dari :

a)      Nail root :akar kuku, bagian kuku yang tertanam di dlm kulit jari.

b)      Nail plate :bagian kuku yang menempel diatas kulit.

c)      Nail groove :lengkung alur kuku.

d)     Eponikium :kulit tipis yang menutup kuku bagian progsimal.

e)      Hiponikium: bg kulit yg tertutup oleh kuku.

3)      Rambut

a)      Lanugo adalah rambut halus tak berpigmen terdppt pada bayi.

b)      Rambut terminal  pada orang dewasa banyak mengandung pigmen, kasar. Terdapat di kepala, bulu mata, alis, kumis, pubis, janggut dan pertumbuhanya dipengaruhi oleh hormon androgen ( hormon seks).

c)      Velus : rambut halus di dahi dan badan lain.

Siklus pertumbuhan rambut

a)      Fase anagen (fase pertumbuhan) :berlangsung 2-6 tahun. Tumbuh kira2 0,35 mm perhari.

b)      Fase katagen ( fase involusi temporer).

c)      Fase telogen  fase istirahat ) beberapa bulan

FISIOLOGI KULIT

  1. Fungsi proteksi
  • Proteksi fisis dan mekanis : tekanan, gesekan, tarikan.àketebalan lapisan kulit dan lemak subcutis.
  • Proteksi kimiawi : zat iritan àstratum korneum impermeabel, dan lepas secara teratur.
  • Proteksi terhadap panas: ultra violet àmelanosit.
  • Proteksi terhadap infeksi à keratin impermeabel, lepas secara teratur, pH 5-6,5.
  1. Fungsi ekskresi
  • Kelenjar-kelenjar kulit  mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme berupa : NaCl, Urea, asam urat, amonia.
  • Kulit mengeluarkan (kelenjar sebasea) mengeluarkan sebum yang berfungsi untuk melicinkan kulit, menahan evaporasi, dan menciptakan keasaman kulit.
  1. Fungsi pengatur suhu (termoregulasi)
  • Mengeluarkan keringat, evaporasi, radiasi.
  • Vasokonstriksi vasodilatasi perifer oleh sistem syaraf simpatis,
  • Fungsi pembentuk pigmen
  • Pada stratum basale ; jumlah dan besarnya melanosomes menentukan warna kulit.
  • Warna kulit juga ditentukan oleh kadar Hb, Oksi Hb, dan karoten.
  • Warna kulit juga dipengaruhi tebalnya kulit.
  1. Fungsi keratinasi
  • Epidermis  terdiri dari keratinosit, sel langerhans dan melanosit. Keratinosit terus bergerak keatas dan berubah bentuknya menjadi spinosum àgranulosum à keratin ; proses ini berjalan terus seumur hidup.
  1. Fungsi pembnetukan vitamin D
  • Mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.
  1. Fungsi persepsi sensori/ perabaan

Kulit mempunyai ujung-ujung serabut saraf pada dermis dan subkutis:

  • panasà BADAN RUFFINI dermis dan subkutis.
  • Dingin à BADAN KRAUSE dermis.
  • Taktil /rabaan àBADAN MEISNER papila dermis dan BADAN MARKEL RANVIER epidermis.
  • Tekanan à BADAN VATER PACCINI epidermis.

Saraf tersebut diatas lebih banyak pada daerah erotis.

  1. Fungsi absorbs
  • Kulit yang sehat tidak menyerap air, larutan atau benda padat, tapi hanya cairan yang mudah diserap, mudah menguap dan yang larut dalam lemak.
  • Permeabilitas kulit terhadap O2 dan CO2 serta uap air memungkinkan kulit berperan proses respirasi jaringan.
  • Absorbsi diserap lebih banyak dari sel-sel epidermis daripada saluran kelenjar.
  1. Etiologi

Penyebabnya belum di ketahui secara pasti namun peran sinar ultraviolet matahari sangat berperan dan diduga menjadi penyebab utama. Melanoma di temukan hampir pada semua usia dan sering di temukan pada daerah tropik.

Faktor resiko melanoma maligna diantaranya yaitu:

  1. Tahi lalat (Nevus)
  2. Faktor Keluarga
  3. Fenotip
  4. Supresi Sistem Imun
  5. Pajanan Terhadap Radiasi Sinar UV yang Berlebihan
  6. Usia
  7. Xeroderma Pigmentosum
  8. Riwayat Terkena Melanoma
  9. Corak kulit kuning langsat, mata biru, rambut pirang / merah
  10. Bekerja diluar ruangan
  11. Lansia dengan kulit rusak karena matahari
  12. Riwayat tindakan sinar-x terjadi kordis kulit
  13. Pemajanan pada agens kimia tertentu (arsenik, nitrat, tar dan ter, minyak dan parafin)
  14. Jaringan parut luka bakar, kerusakan kulit pada area osteomielitis kronis, lubang fistula
  15. Terapi imunosupresi jangka panjang
  16.  Kerentanan genetik
  17.  Infeksi terhadap patogen.

Melanoma maligna kutan primer dapat diklasifikasikan dalam 4 tipe mayor, yaitu

  1. Melanoma Maligna Lentigo (LMM)

LMM disebut juga Hutchinson’s melanotic freckle atau prakanker Dubreilh. LMM timbul dari lesi lentigo maligna yang telah ada sebelumnya. LMM menduduki kira-kira 5% dari melanoma kulit primer, terutama terjadi pada orang tua. Berlawanan dengan substipe melanoma lainnya, LMM mengenai daerah tubuh yang terpapar sinar matahari, terutama wajah. Lesi pada lentigo maligna biasanya berupa bercak makula kecil, berwarna coklat gelap, coklat, atau hitam. Pada permukaannya dapat dijumpai adanya bercak-bercak pigmentasi, yang tersebar tidak teratur. Lesi meluas secara perlahan dan ireguler. Dapat berkembang menjadi nodul biru kehitaman yang invasif dan agak hiperkeratotik.

  1. Melanoma Maligna Permukaan (SSM)

Pada umumnya timbul dari nevus atau pada kulit normal (de novo). Merupakan jenis yang sering dijumpai, yaitu sekitar 70% dari seluuh melanoma maligna. Lebih sering dijumpai pada usia yang lebih muda dibandingkan dengan LMM, yaitu berkisar antara 40-50 tahun. Lesi berupa plak archiformis berukuran 0,5-3 cm dengan tepi meninggi dan ireguler. Pada permukaannya terdapat campuran dari bermacam-macam warna seperti coklat, abu-abu, biru, hitam, dan sering kemerahan. Meluas secara radial. Pada umumnya setelah lesi mencapai ukuran 1-2,5 cm, terjadi fase pertumbuhan secara vertikal dan berkembang menjadi nodul biru kehitaman. Predileksinya pada wanita dijumpai pada tungkai bawah dan punggung, sedangkan pada pria dibadan dan leher.

  1. Melanoma Maligna Bernodul (NM)

Dapat terjadi tanpa didahului fase pertumbuhan radial. Sehingga aturan ABCD tidak dapat diterapkan pada subtipe ini. Kira-kira 10-30% kasus melanoma adalah tipe noduler. Tempat yang sering terkena adalah kepala, leher dan badan. Lesi biasanya berupa nodul yang meninggi, berpigmen seragam. Warnanya berkisar dari biru kehitaman sampai coklat gelap, atau kadang-kadangamelanotik.

  1. Melanoma Maligna Lentigo Akral (ALM)

Pada umumnya timbul pada kulit normal (de novo). Merupakan tipe yang paling jarang terjadi (1%), tapi dapat sangat ganas karena keterlambatan diagnosis. Predileksinya pada telapak kaki dan tangan, jari-jari tangan dan kaki, dasar kuku, dan membrana mukosa. Lesi berupa bercak dengan pigmen yang tersebar dengan intensitas yang bervariasi. Pada permukaannya dapat timbul papul, nodul, dan dapat mengalami ulserasi

  1. Patofisiologi

Melanoma bisa berawal sebagai pertumbuhan kulit baru yang kecil dan berpigmen padakulit yang normal. Paling sering tumbuh pada kulit yang terpapar sinar matahari, tetapihamperseparuh kasus tumbuh dari tahi lalat yang berpigmen. Melanoma mudah menyebar kebagiantubuh yang jauh (metastase), dimana akan terus tumbuh dan menghancurkan jaringan.Semakinsedikit pertumbuhan melanoma ke dalam kulit, maka semakin besar peluanguntukmenyembuhkannya. Jika melanoma telah tumbuh jauh ke dalam kulit, akan lebihmungkinmenyebar melalui pembuluh getah bening dapembuluh darah dan bisa menyebabkankematiandalam beberapa bulan atau tahun. Perjalanan penyakit melanoma bervariasi dantampaknya dipengaruhi oleh kekuatan pertahananoleh sistem kekebalan tubuh. Beberapapenderita yang keadaan kesehatannya baik, bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun meskipunmelanomanya telah menyebar.

Tanda-tanda peringatan akan terbentuknya melanoma

  • bintik atau tahi lalat berpigmen (terutama yang berwarna hitam atau biru tua) yang semakin membesar
  • Perubahan warna pada tahi lalat, terutama pigmentasi merah, putih dan biru di kulit sekelilingnya
  • Perubahan pada kulit diatas bintik yang berpigmen, misalnya perubahan konsistensi atau bentuk
  • Tanda- tanda peradangan pada kulit di sekitar tahi lalat

Melanoma berasal dari melanosit, yang timbul dari puncak saraf dan bermigrasi ke epidermis,uvea, meninges, dan mukosa ectodermal. Melanosit, berada di kulit dan menghasilkan melaninpelindung, yang terkandung dalam lapisan basal epidermis, di antara dermis dan epidermis.Melanoma dapat berkembang di atau dekat lesi yang sudah ada sebelumnya atau di kulityangtampak sehat. Sebuah melanoma ganas yang berkembang dalam kulit yang sehat dapat dikatakantimbul de novo, tanpa bukti adanya lesi sebelumnya. Banyak dari melanoma yang diinduksi oleh radiasi matahari. Risiko terbesar yang disebabkan paparan sinar matahari-yang dapat menyebabkan melanoma dikaitkan dengan terbakar oleh sinar matahari secara akut, intens, dan berselang. Risiko ini berbeda dibandingkan dengan kanker sel skuamosa dan basal kulit, yangterkait dengan lama, paparan sinar matahari jangka panjang Melanoma juga dapat terjadi didaerah tidak terbakar kulit, termasuk telapak tangan, telapak kaki, dan perineum.lesi tertentu dianggap prekursor lesi melanoma, termasuk nevus diperoleh secara biasa, nevus displastik,nevus kongenital, dan nevus biru selular. melanoma memiliki 2 fase pertumbuhan, radial danvertikal. Selama fase pertumbuhan radial, sel-sel ganas tumbuh dalam mode radial padaepidermis Dengan waktu berlangsung, sebagian besar melanoma ke fase pertumbuhan vertikal,di mana sel-sel ganas menginvasi dermis dan mengembangkan kemampuan untuk bermetastasis.

  1. Manifestasi Klinis

Gejala atau tanda yang patut di curigai sebagai tanda keganasan suatu lesi adalah perubahan warna seperti lebih terang atau lebih gelap, gatal, perubahan bentuk menjadi tidak teratur atau nevus bertambah luas serta bertambah tebal, pertumbuhan horizontal dan vertikal, permukaan tidak rata, dan akhirnya pembentukan tukak. Pendarahan menandakan proses sudah sangat lanjut.

Bentuk dini sangat sulit dibedakan dengan tumor lainnya. Karena melanoma maligna merupakan penyakit yang fatal bila telah metastasis jauh, maka kemampuan untuk mengenali keganasan dini perlu diperdalam. Lokalisasi dilaporkan terbanyak di ekstremitas bawah, kemudian didaerah badan, kepala/leher, ektremitas atas, kuku. Kunci penyembuhan melanoma maligna adalah penemuan dini, sehingga diagnosis melanoma harus ditingkatkan bila penderita melaporkan adanya lesi berpigmen baru atau adanya tahi lalat yang berubah, seperti: berpigmen, yaitu:

  1. perubahan dalam warna
  2. perubahan dalam ukuran (terutama pertumbuhan yang cepat)
  3. timbulnya gejala (gatal, rasa terbakar, atau rasa sakit)
  4. terjadi peninggian pada lesi yang sebelumnya datar
  5. perubahan pada permukaan atau perubahan pada konsistensi lesi berpigmen
  6. berkembangnya lesi satelit
  7. Akademi dermatologi Amerika menekankan pentingnya ABCD saat mengevaluasi setiap lesi berpigmen, yaitu Asimetri, Border irregularity, Color variegation, Diameter yang lebih dari 6 mm
  1. Pemeriksaan Diagnostik

Selain biopsi dari dugaan lesi, laboratorium dan tes diagnostik digunakan menentukan keadaan tumor apakah telah metastase. Karena malignan melanoma dapat metastase pada beberapa organ atau jaringan dari tubuh, dilakukan macam-macam tes
Tes laboratorium termasuk seperti dibawah ini:

  1. Tes fungsi liver untuk menentukan keadaan tumor yang telah metastasis pada liver. Kombinasi dari elevasi LDH, alkaline phosphatase, dan SGOT mempengaruhi liver.
  2. Menghitung jumlah darah yang dilakukan untuk menentukan abnormalitas hematologi
  3. Tes serum darah dilakukan untuk mengindentifikasi elektrolit mineral yang abnormal).
  4. Biopsi lesi adalah hanya metode definitif pada diagnosa malignan melanoma. Eksisi biopsy adalah prosedur diagnostik dari pilihan karena dibawah ini lebih komplit histologic evaluasi dan tingkat mikroskop. Biopsi tidak harus dilakukan jika terduga melanoma, karena ketebalan dan dalamnya lesi tidak dapat di kaji, membuat keputusan tentang prognosis dan pengobatan sangat sulit.
  5. CT–scan liver menentukan jika enzim hati abnormal dan menentukan luasnya metastasis dari hati lebih akurat.
  6. X-ray dada dilakukan jika klien sulit bernafas atau hemoptisis, dimana rangsangan paru-paru menjadi metastasis.
  7. Scan tulang  dilakukan untuk menentukan metastatik karena tidak dapat menentukan nyeri tulang.
  8. CT scan atau  MQI dari otak yaitu menentukan pengkajian dari metastasis jika klien sakit kepala, seizure, atau defisit neurology.
  9. Biopsi jaringan dari limpa tulang belakang atau lesi kulit lain dilakukan untuk mengidentifikasi metastasis.
  1. Penatalaksanaan

Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker melanoma maligna ini adalah pengangkatan secara komplit jaringan kanker dengan jalan pembedahan, apabila telahdiketahui terjadi penyebaran maka dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan disekitarnya. Untuk pengobatan secara medikomentosa dengan kemoterapi (obat-obat antikanker) yang dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu: alkylating agents,antimetabolit, alkaloid tanaman, antibiotik antitumor, enzim, hormon dan pengubah respon biologis. Dan pengobatan secara nonmedikomentosa meliputi radioterapi, pembedahan dan terapi fisik.

  1. Komplikasi

Melanoma Maligna merupakan jenis kanker kulit yang paling ganas, dapat menyebar kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar limfa, menyebabkan hipertensi, hypercholesterolemia.

Metastasis dapat terjadi pada local (di dalam atau sekitar lesi primer), pada limfonodi, atau pada:

  1. Kulit yang jauh dari lesi primer
  2. Limfonodi yang jauh
  3. Organ-organ dalam
  4. Tulang

Metastasis dapat berlangsung cepat secara hematogen maupun limfogen.

ulkus mudah berdarah.

  1. Prognosis

Prognosis melanoma maligna sangat bervariasi. Ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya:

  1. Sifat tumor

Jenis tumor : untuk LMM mempunyai prognosis paling baik, kemudian SSM, sedangkan NM dan ALM mempunyai prognosis yang paling buruk
lokasi tumor: lesi pada ekstremitas mempunyai prognosis lebih baik daripada dibadan.

tingkat invasi dan kedalaman (ketebalan): makin dalam invasi tumor, prognosis makin buruk

  1. Stadium klinis

Angka ketahanan hidup 5 tahun pada melanoma berdasarkan stadium klinik yaitu:
• Stadium I (penyakit terbatas pada kulit): 80-85%

  • • Stadium II (mengenai limfonodi regional): 36%
  • • Stadium III (penyakit disseminata): kurang dari 5%
  1. Lokasi metastasis

Metastasis ke tulang dan hati mempunyai prognosis yang lebih buruk, dibanding bila terjadi metastasis ke kelenjar limfe dan kulit. Jika terdapat melanogen di urine maka prognosisnya lebih buruk.

  1. Faktor penderita
  • • Imunitas
  • • Keadaan umum
  • • Jenis kelamin, prognosis pada wanita lebih baik daripada pria
  1. Epidemiologi

Melanoma maligna predileksi pada orang kulit putih,wilayah Queensland Australia merupakan daerah insidentinggi yang terkenal. Pada tahun 1982 insidennya pada pria 18/100.000, pada wanita 17,6/100.000, angka itu masih terus meningkat. Amerika Serikat dalam 60 tahun silam memiliki pertumbuhan insiden melanoma malignayang tercepat, pada tahun 1935 dari 1500 orang Amerika Serikat ada 1 orang menderita melanoma maligna, tahun 1987 dari 135 orang ada 1 orang, pada tahun 2000 sudah berkembang menjadi dari 75 orang ada 1 menderita tumor ini. Di kalangan kulit berwarna kejadian melanoma maligna lebih rendah. Kejadiannya berkaitan dengan radiasi ultraviolet. Di kalangan penduduk sekitar Katulistiwa, angka kejadian dan kematian penyakit ini secara jelas lebih tinggi dari penduduk yang jauh dari Katulistiwa.

Asia Tenggara termasuk kawasan Katulistiwa, insiden melanoma maligna belum terdatasecara tepat, tapi penulis dalam beberapa kesempatanberbakti sosial sudah menemukan 6 kasus, tampaknya penyakit ini tidak jarang terjadi di wilayah ini. Insiden diantara kulit pria kulit putih meningkat 5,1% setiap tahun,93,3% secara keseluruhan, sedangkan pada wanita peningkatan hanya sebesar 3,8% pertahun,6,7 secara keseluruhan.
Melanoma maligma lebih sering terjadi kulit putih. Tempat yang paling sering terkena pada kulit gelap dalah telapak tangan,telapak kaki,jari tangan dan kaki,dan membare mukosa. Melanoma dapat terjadi pada usia remaja dan awal dua puluh tahun dan tiga puluh tahun. Bukti epidemiologis yang melibatkan pamparan matahari dalam menyebabkan melanoma didukung oleh bukti biologis bahwa kerusakan yang disebabkan oleh radiasi ultraviolet khusunya kerusakan DNA,memaikan peran inti dalam patogenesis tumor ini.

Di Amerika, didapatkan data enam dari tujuh penderita kanker ini meninggal dunia. Dan jumlah orang yang terserang meningkat dari tahun ke tahun. Melanoma Maligna bisa berkembang dari tahi lalat timbul yang sudah ada atau yang baru muncul.

  1. Pencegahan
    1. Penghindaran terhadap sinar matahari yang berlebihan,terutama usia 20, adalah pencegahan yang paling efektif.
    2. Tabir surya mungkin membantu, tetapi penelitian belum bias menyimpulkannya.
    3. Pemeriksaan kulit meyuluh pada diri sendiri direkomendasikan dalam sebuah penelitaian ternyata dapat mengurangi mortalitas melanoma sampai 65%.
    4. Asuhan primer teratur atau penapisan dermatologi memungkinkan lesi terdiagnosis pada stadium yang lebh awal.
  1. Konsep Keperawatan
  2. Pengkajian
    1. Anamneses
    2. Tanda-tanda Vital
    3. Aktivitas Istirahat
      Tanda : Keterbatasan mobilisasi/kehilangan pada bagian yang terkena (mungkin segera karena nyeri, pembengkakkan setelah tindakan aksisi dan graft kulit).
    4.  Sirkulasi
      Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai rspon terhadap nyeri/ansietas), takikardia (respon stress, hipovolemia), lesi cenderung sikuker dengan bagian luar yang tidak teratur
    5. Neurosensori
      Nyeri dada daerah karsinoma.
    6. Nyeri/Kenyamanan
      Gejala : Nyeri berat saat tindakan eksisi dan grafh kulit (mungin terlokasi pada area lesi yang di eksisi local yang luas dan pada grafh kulit)
    7. Keamanan
      Tanda : Lesi semakin menonjol, pendarahan lesi, perubahan local pada warna nodul (biasanya relative licin serta berwarna biru hitam yang seragam, dapat meningkat/berubah secara bertahap), serta nodul yang menebal, bersisik dan berulselasi.
    8. Penyuluhan /Pembelajaran
      Gejala : Lingkungan trauma, aktivitas perwatan dini dan tugas pemeliharaan/perwatan rumah
  1. Diagnosa Keperawatan
    1.  Nyeri berhubungan dengan pembedahan
    2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan
    3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit
    4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan, radioterapi dan kemoterapi topical.
  1. Rencana Keperawatan
    1. Nyeri Akut berhubungan dengan pembedahan

NOC : Pain Level, Pain control, Comfort level

1)      Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

2)      Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

3)      Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

4)      Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

NIC :

Manajemen nyeri :

1)      Kaji nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.

2)      Observasi  reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan.

3)      Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.

4)      Berikan lingkungan yang tenang

5)      Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri.

6)      Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.

7)      Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri.

8)      Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri.

Administrasi analgetik :

1)      Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.

2)      Cek riwayat alergi.

3)      Monitor tanda-tanda vital.

4)      Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul.

5)       Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping.

  1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan.

NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membrane

1)    Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)

2)    Tidak ada luka/lesi pada kulit

3)    Perfusi jaringan baik

4)     Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang

5)    Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

NIC : Pressure Management

1)     Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar

2)     Hindari kerutan padaa tempat tidur

3)     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

4)     Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali

5)     Monitor kulit akan adanya kemerahan

6)     Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan

7)     Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

8)     Monitor status nutrisi pasien

  1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit

NOC :Citra tubuh

1)      Gambaran internal tubuh

2)      Keseimbangan antara realita, ideal dan penampilan tubuh

3)       Kepuasan penampilan tubuh

4)      Pengaturan penampilan fisik tubuh

5)      Pengaturan perubahan fungsi tubuh

NIC : Perbaikan Citra Tubuh

1)      Kaji dugaan citra tubuh pasien, sesuai dengan perkembangannya.

2)      Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan yang terjadi akibat penyakit dan pembedahan.

3)      Bantu pasien memelihara perubahan tubuh

4)      Bantu pasien untuk membedakan penampilan fisik dari perasaan yang berharga

5)      Bantu pasien untuk menentukan akibat dari persepsi yang sama penampilan tubuh.

6)      Monitor pandangan diri secara berkala

7)      Monitor apakah pasien melihat perubahan pada bagian tubuh

8)      Monitor pernyataan tentang persepsi identitas diri sehubungan dengan bagian tubuh dan berat badan

  1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan, radioterapi dan kemoterapi topical.

NOC : Kowlwdge : disease process, Kowledge : health Behavior

1)      Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan

2)      Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benarv  Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya

NIC : Teaching : disease Process

1)      Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik

2)      Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.

3)      Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat

4)      Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat

5)      Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat

6)      Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat

7)       Hindari harapan yang kosong

8)      Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat

9)      Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit

10)  Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

11)  Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan

12)  Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat

13)  Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

  1. Aspek Legal Etik

Dalam kasus ini, peran perawat sebagai advokat harus bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam hal inform concern atas tindakan keperawatan yang dilakukan. Selain itu juga harus mempertahankan dan melindungi hak-hak klien serta memastikan kebutuhan klien terpenuhi.

  1. Otonomi

1)      Prinsip bahwa individu mempunyai hak menentuka diri sendiri, memperoleh kebebasan dan kemandirian.

2)      Perawat yang mengikuti prinsip ini akan menghargai keluhan gejala subjektif (misal : cemas), dan meminta persetujuan tindakan sebelum prosedur dilaksanakan.

  1. Nonmaleficience

1)      Prinsip menghindari tindakan yang membahayakan. Bahaya dapat berarti dengan sengaja, risiko atau tidak sengaja membahayakan.

2)      Contoh : kecerobohan perawat dalam memberikan pengobatan menyebabkan klien mengalami cedera

  1. Beneficience

1)      Prinsip bahwa seseorang harus melakukan kebaikan. Perawat melakukan kebaikan dengan mengimplementasikan tindakan yang menguntungkan/ bermanfaat bagi klien.

2)      Dapat terjadi dilema bila klien menolak tindakan tersebut, atau ketika petugas kesehatan berperan sebagai peneliti

  1. Justice

1)      Prinsip bahwa individu memiliki hak diperlakukan setara.

2)      Cth : ketika perawat bertugas sendirian sementara ada beberapa pasien di sana maka perawat perlu mempertimbangkan situasi dan kemudian melakukan tindakan secara adil.

  1. Fidelity

1)      Prinsip bahwa individu wajib setia terhadap komitmen atau kesepakatan dan tanggung jawab yang dimiliki.

2)      Kesetiaan juga melibatkan aspek kerahasiaan / privasi dan komitmen adanya kesesuaian antara informasi dengan fakta.

  1. Veracity

1)      Mengacu pada mengatakan kebenaran. Bok (1992) mengatakan bahwa bohong pada orang yg sakit atau menjelang ajal jarang dibenarkan.

2)      Kehilangan kepercayaan terhadap perawat dan kecemasan karena tidak mengetahui kebenaran biasanya lebih merugikan.

Fungsi Advokasi :

Perawat sebagai peran advokasi yaitu perawat memberikan bantuan serta memberikan informasi kepada klien tentang segala sesuatu yang dibutuhkan oleh klien dengan memperhatikan nilai-nilai serta hak-hak klien.

  1. Pendidikan kesehatan

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

Tema                    : Sistem Integumen

Subtema               : Pemberian Kemoterapi

Waktu                  : 30 menit

Sasaran                : klien dan keluarga

Hari                     : Selasa, 22 Mei 2013

  1. Tujuan Instruksional Umum

Setelah diberikan penyuluhan selama ± 30 menit, diharapkan klien dapat mengerti danmemahami tentang pentingnya kemoterapi bagi upaya penyembuhan penyakit.

  1. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah diberikan penyuluhan ± 30 menit diharapkan pasien dapat :

  1. Mengetahui definisi kemoterapi
  2. Mengetahui tujuan kemoterapi
  3. Mengetahui jenis kemoterapi
  4. Mengetahui prosedur kemoterapi
  1. Pokok Materi
    1. Definisi kemoterapi
    2. Tujuan kemoterapi
    3. Jenis kemoterapi
    4. Prosedur kemoterapi
  1. Metode
    1. Tanya jawab
    2. Ceramah
    3. Kegiatan
No. Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu

(menit)

1. Pembuka: Memberikan salam

Menyampaikan tujuan penyuluhan

Menjawab salam

Mendengarkan

5 menit
2. Isi: Menjelaskan :

  1. Definisi kemoterapi
  2. Tujuan kemoterapi
  3. Jenis kemoterapi
  4. Prosedur kemoterapi
Mendengarkan dan menyimak 20 menit
3 Penutup: Menyimpulkan

Evaluasi

Salam penutup

Menyimak

Menyimak

Menjawab salam

5 menit
  1. Evaluasi
    1. Formatif:

a)      Klien dapat memahami tentang pengertian kemoterapi

b)      Klien dapat memahami tentang tujuan kemoterapi

c)      Klien dapat memahami tentang jenis kemoterapi

d)     Klien dapat memahami tentang prosedur kemoterapi

  1. Somatif:

Klien dapat mengetahui dan memahami tentang kemoterapi

Yogyakarta, 5 Mei  2013

            Pembimbing                                                                                      Penyuluh

(                      )                                                                     (                        )

  1. Journal

Cyclin D1 ekspresi protein dalam Melanoma ganas dan Melanocytic Nevi

Willy Sandhika , Tulus Panuwun, Lusiani Tjandra

Departemen patologi anatomi fakultas kedokteran universitas airlangga

Departemen Farmasi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak
Latar Belakang: Melanoma adalah bentuk kanker kulit yang memiliki perilaku agresif dan resistensi terhadap terapi konvensional. Ini perilaku yang tidak biasa mencerminkan proses karsinogenesis unik yang melibatkan beberapa mutasi pada kromosom dan genom yang mengatur proliferasi dan proses apoptosis. Mutasi gen yang paling umum dalam tumor ganas cyclin D1. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan memainkan peran penting dalam karsinogenesis melanoma dari ekspresi gen ini.

Metode: blok parafin pasien melanoma dari Departemen patologis dikumpulkan dari periode Juli 2007 sampai Juni 2008. Lima kasus melanocytic Nevi ditambahkan sebagai kelompok kontrol. Blok kemudian dipotong dengan menggunakan mikrotom, ditempatkan pada slide mikroskopik yang diwarnai dengan antibodi monoklonal terhadap cyclin D1 masing-masing.

Hasil: melanoma spesimen menunjukkan 80% kasus positif cyclin D1. Data kemudian dianalisis secara statistik Mann Whitney dan hasilnya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam ekspresi cyclin D1 (p = 0,013, p <0,05) di melanoma ganas dibandingkan dengan nevus melanocytic.

Kesimpulan: cyclin D1 memainkan peran penting dalam karsinogenesis melanoma menunjukkan bahwa ada lain gen supresor tumor yang bermutasi dalam sel melanoma.

  1. Daftar Pustaka

Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta : EGC

Saputra, Lyndon dr. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Batam: Binarupa Aksara. Hal 164-165.

Sjamsuhidayat, R, Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah-Ed.2.Jakarta: EGC. Hal 695
Stephen J. Marx, M.D. “Hyperparathyroid And Hypoparathyroid Disorders”. The New England Journal of Medicine. Volume 343:1863-1875. December 21, 2000

Tentang gustiayuderly

Mahasiswa STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta Hobby main game
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s